Cholil Nafis: NU Harus Padukan Ilmu, Akhlak, dan Sistem untuk Bangun Peradaban

  • 27 Agt 2026 14:31 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis menekankan bahwa Nahdlatul Ulama harus mengintegrasikan tiga pilar utama: ilmu, akhlak, dan sistem organisasi yang solid.
  • Cholil Nafis menjelaskan bahwa peradaban tidak hanya dibangun dari kemajuan materi, tetapi memerlukan kombinasi ilmu yang memberi arah, akhlak yang memberi nilai, dan sistem yang memastikan keduanya bekerja secara teratur.
  • Kolaborasi ketiga elemen tersebut dipandang esensial bagi Nahdlatul Ulama untuk menghadapi tantangan peradaban global yang akan datang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Ketua Umum MUI Cholil Nafis mengatakan Nahdlatul Ulama (NU) perlu mengolaborasikan kekuatan ilmu, akhlak, dan sistem organisasi yang solid. Hal tersebut agar NU untuk menghadapi tantangan peradaban global di masa mendatang.

"Peradaban tidak dibangun hanya dengan kemajuan materi, tetapi dengan ilmu, akhlak, dan sistem. Ilmu memberi arah dan kemampuan, akhlak memberi nilai dan kemuliaan, sedangkan sistem memastikan nilai dan ilmu itu bekerja secara teratur untuk kemaslahatan bersama," ucap Cholil dalam pernyataannya, dikutip Kamis, 27 Agustus 2026.

Cholil menjelaskan tentang tiga watak yang perlu berjalan bersamaan dalam tubuh NU. Ketiganya adalah ‘ilmiyah, wasathiyah, dan tajdidiyah.

Watak ‘ilmiyah, kata Cholil, menempatkan tradisi keilmuan sebagai dasar dalam merespons berbagai persoalan. Setiap langkah NU perlu didukung pengetahuan yang kuat, rasional, berbasis data, serta memiliki argumentasi syariat yang kokoh.

Sementara wasathiyah menjadi landasan untuk menjaga keseimbangan, keadilan, dan sikap moderat. Ketiganya diperlukan di tengah perbedaan serta polarisasi yang semakin tajam.

Adapun tajdidiyah merupakan semangat pembaruan dalam Islam. Semangat ini diperlukan agar nilai-nilai Islam Ahlussunnah wal Jama'ah tetap relevan dalam menghadapi perubahan zaman.

"Peradaban yang kuat bukan sekadar mewarisi masa lalu, tetapi memahami warisan dengan ilmu. Menjaganya dengan sikap wasathiyah, dan mengembangkannya melalui tajdid," ujarnya.

Cholil menilai perpaduan nilai-nilai tersebut dapat menentukan posisi NU dalam perkembangan peradaban global. "Dengan ilmu kita mengetahui yang benar, dengan akhlak kita mengamalkannya," ucap Cholil.

"Dengan sistem kita menegakkannya, dan dengan tajdid kita membawanya menuju masa depan. Ilmu membangun kecerdasan, akhlak membangun kemanusiaan, sistem membangun keteraturan, mengantarkan semuanya menjadi peradaban," kata Cholil menambahkan.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....