Krisis Air Bersih Meluas, Warga Diminta Hemat Air

  • 28 Agt 2026 11:05 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Dampak Kemarau Ekstrem: Lebih dari 4,87 juta jiwa terdampak kekeringan panjang, sementara debit pasokan air bersih warga merosot hingga 25% dari kapasitas normal.
  • Pentingnya Hemat Air Harian: PAM Jaya imbau warga ubah kebiasaan kecil seperti mematikan keran saat sikat gigi dan menyabuni tangan untuk menekan keborosan air.
  • Ancaman Penurunan Tanah: Eksploitasi air tanah yang masif bikin tanah Jakarta turun 10-20 cm per tahun karena daerah resapan hulu terus berkurang.

RRI.CO.ID, Jakarta – Direktur Utama Perumda Air Minum Jaya (PAM Jaya) Arif Nasrudin mengatakan penghematan air menjadi kunci menghadapi krisis. Menurutnya, kebiasaan sederhana di rumah dapat membantu menjaga ketersediaan air.

"Kebiasaan yang sangat kecil, contohnya ketika orang mau sikat gigi biasanya kerannya dinyalakan terus. Padahal ketika sikat gigi kerannya dimatikan tidak apa-apa," kata Arif, dikutip dari YouTube RRI Pro3, Jumat, 28 Agustus 2026.

Arif juga mengingatkan masyarakat untuk mengurangi eksploitasi air tanah secara mandiri. Pemanfaatan jaringan perpipaan resmi dinilai dapat membantu menjaga keberlanjutan sumber daya air.

Pasokan air bersih ke rumah warga bahkan mengalami penurunan hingga 25 persen dari kapasitas normal. Kondisi tersebut diperparah pola konsumsi masyarakat perkotaan yang masih tinggi.

Persoalan air perkotaan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya debit air permukaan. Pengambilan air tanah secara masif turut memicu persoalan amblesan tanah di Jakarta.

Sementara itu, Peneliti Hidrologi Hutan dan Konservasi DAS UGM Hatma Suryatmojo mengatakan, kondisi tersebut semakin mengkhawatirkan. Laju amblesan tanah di Jakarta mencapai sekitar 10 hingga 20 sentimeter per tahun.

"Amblesan tanah di Jakarta itu ibarat rekening bank yang terus-menerus ditarik. Tapi jarang diisi ulang," kata Hatma.

Menurut Hatma, pemulihan daerah resapan air membutuhkan waktu panjang dan proses ekologis yang kompleks. Karena itu, perubahan perilaku masyarakat dalam menggunakan air menjadi langkah yang dapat dilakukan segera.

Masyarakat diimbau menggunakan air bersih secara bijak dan mengutamakan kebutuhan esensial. Kebiasaan sederhana seperti mematikan keran dan mengelola kembali air limbah dapat membantu menjaga ketersediaan air.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....