Sarjito Soroti Risiko Likuiditas dalam Pengembangan Bursa Mineral

  • 25 Agt 2026 15:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sarjito menilai likuiditas menjadi tantangan utama dalam pengembangan Bursa Mineral dan Komoditas Strategis.
  • Kepercayaan pelaku pasar diperlukan untuk mendorong transaksi dan memperkuat ekosistem perdagangan BMKS.
  • Pengawasan market conduct serta kesiapan infrastruktur dinilai penting untuk membangun BMKS yang terpercaya.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Eksekutif Pengawas Bursa Mineral dan Komoditas Strategis (BMKS) terpilih, Sarjito, menilai likuiditas menjadi tantangan penting dalam pembangunan bursa mineral. Menurutnya, pasar yang dangkal dan tidak likuid berpotensi membuat trader enggan bertransaksi.

Sarjito menjelaskan, persoalan likuiditas tidak terlepas dari tingkat kepercayaan pelaku terhadap pasar. Menurutnya, kepercayaan terhadap bursa juga akan memengaruhi keyakinan terhadap produk dan ekosistem perdagangan.

Ia menggunakan aktivitas price arbitrage sebagai salah satu indikator untuk melihat tingkat kepercayaan terhadap bursa. Price arbitrage merupakan strategi memanfaatkan perbedaan harga komoditas pada dua pasar untuk mendapatkan keuntungan.

Menurut Sarjito, praktik arbitrase juga dilakukan trader pada bursa komoditas global seperti London Metal Exchange. Kondisi tersebut menjadi salah satu gambaran pentingnya kepercayaan terhadap sebuah bursa.

“Kalau Bursa Indonesia tidak dipakai untuk arbitrage, artinya tidak trusted. Kalau pasarnya terpercaya, maka artinya produknya terpercaya, ekosistemnya terpercaya,” kata Sarjito dalam fit and proper test dengan Komisi XI DPR RI di Gedung Parlemen, Jakarta, Senin, 24 Agustus 2026.

Sarjito juga menilai pengawasan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan terhadap BMKS. Pengawasan market conduct diperlukan agar seluruh pelaku pasar, termasuk pemain asing, mematuhi ketentuan yang berlaku.

Selain pengawasan, ujarnya, kepercayaan terhadap BMKS juga membutuhkan kesiapan seluruh rantai perdagangan. Infrastruktur pendukung mencakup pergudangan, penguji mutu, bursa, lembaga kliring, penyelesaian transaksi, hingga proses delivery.

“POJK ini nanti harus yang user friendly, dan juga melindungi konsumen. Ekosistem di dalam bursa sendiri dari mulai pergudangan, penguji mutu, bursa, lembaga kliring dan penyelesaian sampai delivery itu harus meyakinkan,” ucap Sarjito.

Sarjito menambahkan, pengawas BMKS harus memiliki fungsi yang jelas untuk menjaga kepercayaan seluruh pelaku pasar. Pengawasan terhadap market conduct dinilai penting agar bursa Indonesia mampu dipercaya pelaku domestik maupun internasional.

“Untuk memastikan kepercayaan market, pengawasnya harus jelas. Ada market conduct untuk meyakinkan pemain dari luar negeri atau siapapun bahwa bursa di Indonesia dapat dipercaya,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....