Kemensos dan Relawan Beri Dukungan Psikososial Korban Gempa Sikka

  • 25 Agt 2026 09:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Layanan diprioritaskan bagi kelompok rentan seperti anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lanjut usia
  • Hasil asesmen menunjukkan 19 persen korban berada pada kategori risiko sangat tinggi dan dirujuk kepada psikolog
  • Korban dengan risiko sedang dan ringan mendapat pendampingan melalui Psychological First Aid, kegiatan rekreasional, serta pemulihan fungsi sosial
  • Pendampingan dilakukan secara terstruktur di lokasi pengungsian dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan korban
  • Kemensos bersama relawan memberikan layanan dukungan psikososial bagi korban gempa di Kabupaten Sikka, NTT

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Sosial bersama relawan memberikan layanan dukungan psikososial (LDP) bagi korban gempa bumi di Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur, Minggu 23 Agustus 2026. Layanan tersebut diprioritaskan bagi kelompok rentan, termasuk anak-anak, perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lanjut usia.

Subcluster LDP telah diaktifkan pada hari ketiga masa pengungsian. Sebanyak 18 lembaga dan organisasi nonpemerintah atau NGO tergabung dalam subcluster tersebut.

Sebagian besar lembaga memberikan layanan kepada anak-anak. Sementara pendampingan bagi kelompok non-anak dilakukan bersama tim Kementerian Sosial.

Tim LDP melakukan asesmen psikososial untuk mengetahui kondisi psikologis korban bencana. Hasil asesmen menunjukkan sekitar 19 persen korban berada dalam kategori merah atau berisiko sangat tinggi.

Sebanyak 31 persen korban berada dalam kategori kuning atau berisiko sedang. Sementara 50 persen lainnya masuk kategori hijau atau berisiko ringan.

“Yang merah kami rujuk ke psikolog karena kasus dengan risiko tinggi harus ditangani oleh tim ahli. Sementara yang masuk kategori kuning dan hijau kami dampingi melalui layanan psikososial,” kata Igun Gunawan, Tim Layanan Dukungan Psikososial Kementerian Sosial.

Untuk korban kategori merah, tim LDP melakukan asesmen lanjutan setelah dirujuk kepada psikolog. Penanganan dilakukan oleh tim psikolog dari universitas serta psikolog yang tergabung dalam tim penanganan bencana.

Sementara korban kategori kuning dan hijau mendapatkan pendampingan melalui Psychological First Aid (PFA), kegiatan rekreasional, serta aktivitas untuk membantu mengembalikan fungsi sosial.

Menurut Igun, sebagian warga memiliki pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami pada 1992. Pengalaman tersebut dapat kembali muncul ketika terjadi gempa susulan.

“Karena sebagian warga memiliki pengalaman traumatis akibat gempa dan tsunami 1992, ketika terjadi gempa susulan ada yang kembali mengalami keterkejutan, kecemasan atau ketakutan,” ujarnya.

Karena itu, tim memberikan latihan stabilisasi dan grounding agar warga mengetahui langkah yang dapat dilakukan ketika merasa cemas atau takut.

Selain stabilisasi dan grounding, korban juga mendapatkan edukasi serta latihan mengenai langkah penyelamatan diri apabila terjadi gempa susulan.

Layanan psikososial dilaksanakan melalui kegiatan harian di lokasi pengungsian. Kegiatan dimulai pukul 06.00 Wita dengan senam pagi bersama yang diikuti warga, anak-anak, relawan, TNI, dan Polri.

Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sarapan serta bersih-bersih. Pada pukul 10.00-12.00 Wita, kegiatan difokuskan pada pendampingan anak, aktivitas rekreasional, PFA, dan kegiatan psikososial lainnya.

Setelah anak-anak beristirahat, kegiatan dilanjutkan pukul 14.00-16.00 Wita bagi perempuan dewasa, ibu hamil dan menyusui, serta lanjut usia. Kegiatan yang diberikan antara lain aktivitas rekreasional dan PFA.

“Ada layanan rekreasional, ada pertolongan pertama psikologis, ada layanan untuk mengembalikan fungsi sosial. Dan itu dilakukan secara terprogram dan terstruktur,” kata Igun.

Pada pukul 16.00 Wita, kegiatan kembali dilaksanakan untuk anak-anak bersama relawan yang tergabung dalam subcluster LDP hingga menjelang malam.

Bagi anak-anak beragama Islam, setelah salat Magrib kegiatan dilanjutkan dengan Magrib Mengaji di musala darurat. Sementara anak-anak beragama Katolik mengikuti kegiatan Sekolah Minggu pada hari Minggu.

Layanan dukungan psikososial terus dilakukan di lokasi pengungsian dengan menyesuaikan kondisi dan kebutuhan korban. Pendampingan diberikan secara bertahap berdasarkan hasil asesmen, termasuk rujukan bagi korban yang membutuhkan penanganan lebih lanjut oleh tenaga profesional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....