Wamenkomdigi Ingatkan Risiko Pemanfaatan AI yang Semakin Canggih
- 22 Agt 2026 07:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wamenkomdigi Nezar Patria memperingatkan adanya konsekuensi yang tidak diinginkan dan tidak terduga (unintended consequences) dalam pemanfaatan kecerdasan buatan.
- Risiko utama terletak pada kemampuan AI untuk melakukan profiling terhadap manusia dan membangun hubungan sintetik yang dapat memberikan dampak negatif.
- Peringatan ini disampaikan dalam acara PhiloConnect yang diselenggarakan di Jakarta pada Rabu, 19 Agustus 2026.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi), Nezar Patria, mengingatkan munculnya unintended consequences, dalam pemanfaatan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Hal itu disampaikannya, dalam acara PhiloConnect, yang digelar di Jakarta, Rabu, 19 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, unintended consequences merupakan konsekuensi yang tidak diinginkan dan tidak terduga dalam pemanfaatan AI. Utamanya dikatakan Wamenkomdigi, ketika AI mulai mampu melakukan profiling dan membangun hubungan sintetik dengan manusia.
Sebab dalam perkembangannya saat ini, AI semakin mampu memasuki ruang-ruang kehidupan manusia. Bahkan hal itu dicontohkannya, dengan kemampuan AI yang dapat menentukan hubungan sosial, hingga pengambilan keputusan tanpa kehendak manusia.
"Perkembangan Artificial Intelligence ini betul-betul memunculkan apa yang kita sebut unintended consequences, konsekuensi yang tidak kita inginkan atau tidak kita duga," kata Nezar dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Dalam perkembangan tersebut, Wamenkomdigi menuturkan bahwa AI tidak lagi terbatas sebagai instrumen teknologi. AI dalam pengolahan data dan prediksi dari hasil pengolahan, juga harus diimbangi dengan kemampuan manusia dalam menentukan hasil keputusannya.
Nezar menilai kondisi tersebut, justru membuat ilmu filsafat semakin relevan dalam perkembangan AI. Hal ini akan memberikan dampak kepada banyak perusahaan teknologi global, yang kini mulai mencari para ahli filsafat.
"Sebentar lagi lulusan filsafat akan dibayar mahal karena semua decision making yang dibuat oleh Artificial Intelligence akan punya dimensi-dimensi etik yang membutuhkan pertimbangan-pertimbangan dari mereka yang belajar filsafat. Ini menjadi renungan, menjadi refleksi yang sangat baik untuk kita semua yang pernah kuliah di filsafat," ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....