Pemerintah Maksimalkan Operasi Modifikasi Cuaca Atasi Karhutla Kalimantan

  • 21 Agt 2026 21:07 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Pemerintah mengopatimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan.
  • Pelaksanaan OMC di Kalimantan Selatan, tergantung dari ketersediaan awan potensial dan kebutuhan penanganan di lapangan.
  • Operasi Modifikasi Cuaca untuk membantu meningkatkan peluang hujan dan membasahi wilayah rawan.

RRI.CO.ID, Jakarta- Pemerintah mengopatimalkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kalimantan. Pelaksanaan OMC untuk membantu meningkatkan peluang hujan dan membasahi wilayah rawan.

“Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini. Serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, melalui keterangan tertulis dari Bakom RI, Jumat, 21 Agustus 2026.

Ia menjelaskan pelaksanaan OMC di Kalimantan Barat, OMC pada 13- 17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Pada periode tersebut dilakukan sembilan sorti penerbangan, dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.

Berdasarkan prakiraan cuaca terkini, peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23–27 Agustus 2026. BMKG saat ini tengah berkoordinasi dengan para pihak terkait untuk mengupayakan pelaksanaan kembali OMC di Kalimantan Barat pada periode tersebut.

Adapun OMC di Kalimantan Tengah, dilaksanakan dalam dua periode, yakni 27 Juli - 4 Agustus dan 11 - 15 Agustus 2026. Operasi tersebut mencakup 13 sorti penerbangan, dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik.

“Namun, hingga akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas. Karena itu, peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat sangat minim, pemantauan atmosfer tetap dilakukan untuk mengidentifikasi apabila muncul peluang penyemaian awan,” ujar Ristianto.

Adapun pelaksanaan OMC di Kalimantan Selatan, tergantung dari ketersediaan awan potensial dan kebutuhan penanganan di lapangan. Oleh sebab itu, perkembangan cuaca, hotspot, dan kondisi karhutla terus dipantau secara intensif.

“Mengingat OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, operasi hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan yang memenuhi persyaratan teknis untuk penyemaian,” katanya. Kendati demikian, ia menegaskan OMC bukan satu-satunya instrument pengendalian karhutla.

“Pemerintah tetap memprioritaskan pemadaman darat, patroli terpadu, pendinginan lokasi, penguatan personel dan sarana, serta pencegahan agar kebakaran tidak meluas. Evaluasi kondisi cuaca dan operasi lapangan dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap langkah penanganan dilaksanakan secara cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi,” ujarnya.

Sementara itu, Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan mengatakan, penanganan karhutla di Kalimantan masih menjadi prioritas utama pemerintah. BNPB mengoperasikan satu unit helikopter patroli, satu unit untuk OMC, dan tiga unit untuk water bombing di Kalimantan Selatan.

Sementara itu, di Kalimantan Tengah, BNPB mengoperasikan satu unit helikopter patroli, satu unit untuk OMC, dan empat unit untuk water bombing. Di Kalimantan Barat, BNPB mengoperasikan dua unit helikopter patroli, satu unit untuk OMC, dan lima unit untuk water bombing.

"Pengoperasian helikopter tersebut akan terus disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Sementara untuk OMC. BNPB berkolaborasi dengan BMKG untuk memantau pertumbuhan potensi awan hujan yang dapat dimanfaatkan untuk OMC," kata Berton.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....