Jejak Persandian Indonesia dalam Perjuangan Kemerdekaan
- 17 Agt 2026 15:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Informasi rahasia merupakan aspek vital dalam mempertahankan kemerdekaan karena pesan yang jatuh ke tangan musuh dapat membahayakan pergerakan dan strategi pejuang.
- Persandian digunakan sebagai metode komunikasi rahasia untuk melindungi strategi dan pergerakan para pejuang Republik Indonesia dari ancaman pihak lawan.
- Sistem persandian yang awalnya berfungsi sebagai cara komunikasi rahasia berkembang menjadi sistem resmi yang diakui dan digunakan oleh negara.
RRI.CO.ID, Jakarta – Dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, informasi menjadi hal penting yang harus dijaga kerahasiaannya. Pesan yang jatuh ke tangan musuh bisa membahayakan pergerakan dan strategi para pejuang.
Karena itu, komunikasi rahasia menjadi bagian penting dalam perjuangan Republik Indonesia. Salah satu caranya dilakukan melalui persandian yang kemudian berkembang menjadi sistem resmi negara.
Melansir berbagai sumber, Dinas Code menjadi salah satu lembaga yang menangani komunikasi rahasia pada masa awal kemerdekaan. Lembaga tersebut dibentuk di Yogyakarta pada 4 April 1946 oleh Kolonel dr. Roebiono Kertopati.
Tugas Dinas Code adalah membuat dan mengelola sandi untuk komunikasi pemerintah dan militer. Tujuannya menjaga pesan penting agar tidak mudah diketahui pihak lawan.
Roebiono kemudian menyusun Buku Code C yang berisi sekitar 10 ribu kata. Buku tersebut menjadi salah satu pedoman dalam penyampaian pesan rahasia Dinas Code.
Komunikasi rahasia juga didukung berbagai sarana telekomunikasi. Radio telegrafi digunakan untuk menghubungkan pemerintah dengan sejumlah pimpinan dan pasukan di berbagai wilayah.
Saat Agresi Militer Belanda II, sistem persandian semakin penting bagi keberlangsungan komunikasi Republik. Para petugas bahkan menyebar ke sejumlah daerah untuk menjaga hubungan dengan pemerintah darurat dan pasukan gerilya.
Pesan rahasia juga harus melewati perjalanan yang tidak sederhana. Kurir membawa pesan menggunakan sepeda dan menyembunyikan dokumen agar tidak mudah ditemukan pihak Belanda.
Namun, cara berkomunikasi secara rahasia tidak selalu membutuhkan alat atau buku kode. Di Malang, para pejuang menggunakan cara yang lebih sederhana melalui bahasa yang dibalik.
Bahasa tersebut dikenal sebagai boso walikan dan dikaitkan dengan kelompok Gerilya Rakyat Kota. Bahasa ini digunakan untuk menjaga kerahasiaan komunikasi sekaligus membantu membedakan kawan dan lawan.
Kemunculannya berkaitan dengan situasi perjuangan di Malang sekitar 1949. Saat itu, keberadaan mata-mata membuat komunikasi menggunakan bahasa sehari-hari menjadi semakin berisiko.
Para pejuang kemudian membalik susunan kata agar pembicaraan sulit dipahami pihak yang tidak mengenalnya. Contohnya, kata “Malang” dibalik menjadi “Ngalam”, sedangkan “makan” menjadi “nakam”.
Seiring waktu, boso walikan tidak lagi hanya digunakan untuk kepentingan perjuangan. Bahasa tersebut berkembang menjadi bagian dari identitas dan percakapan masyarakat Malang hingga sekarang.
Jejak komunikasi rahasia masa perjuangan kini masih dapat dilihat di Museum Sandi Yogyakarta. Museum tersebut menyimpan berbagai alat persandian, dokumen, buku kode, serta perlengkapan yang digunakan para kurir.
Dari buku kode hingga boso walikan, para pejuang mencari cara agar informasi penting tetap aman. Cara-cara tersebut menunjukkan bahwa perjuangan kemerdekaan juga membutuhkan kecerdikan dalam menjaga komunikasi. (Rahmania Ulfah)
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....