BMKG Petakan Wilayah Terdampak Gempa Flores
- 16 Agt 2026 04:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Survei mikroanalisis dilakukan untuk mengukur karakteristik tanah serta respons tanah terhadap guncangan gempa.
- BMKG menerjunkan tim ahli untuk melakukan survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis di wilayah terdampak gempa Nusa Tenggara Timur (NTT).
- Langkah ini dilakukan untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana.
RRI.CO.ID, Jakarta - BMKG menerjunkan tim ahli untuk memetakan wilayah terdampak gempa di Nusa Tenggara Timur. Pemetaan tersebut dilakukan melalui survei mikrozonasi dan makroanalisis untuk mendukung pemulihan serta rekonstruksi pascabencana.
Tim BMKG Pusat bersama 14 Unit Pelaksana Teknis (UPT) BMKG se-NTT menyisir sejumlah wilayah Pulau Flores. Wilayah yang dipantau mencakup Ngada, Nagekeo, serta sejumlah titik yang dinilai rawan.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan informasi tersebut di Gedung MHEWS BMKG, Jakarta, Sabtu, 15 Agustus 2026. Ia menjelaskan survei dilakukan untuk menyediakan data teknis yang mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana.
"Untuk mendukung proses pemulihan dan rekonstruksi pascabencana, BMKG menerjunkan tim ahli untuk melakukan survei pemetaan mikrozonasi dan makroanalisis," kata Faisal.
Survei mikroanalisis dilakukan untuk mengukur karakteristik tanah serta respons tanah terhadap guncangan gempa. Data hasil survei tersebut menjadi bagian penting dalam menentukan langkah mitigasi dan rekonstruksi wilayah terdampak.
Hasil analisis lapangan nantinya diserahkan langsung kepada para pemangku kepentingan untuk digunakan dalam proses rekonstruksi. Data tersebut juga menjadi rujukan teknis untuk memperkuat struktur bangunan agar lebih tahan terhadap gempa.
BMKG mengimbau masyarakat mengacu pada data dan informasi resmi dari jaringan pemantauan nasional. Sistem pemantauan kegempaan BMKG saat ini ditopang lebih dari 2.000 sensor kegempaan di seluruh Indonesia.
Jaringan tersebut mencakup 553 sensor seismograf yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia untuk memantau aktivitas kegempaan. BMKG juga memperkuat koordinasi penanganan bencana bersama sejumlah lembaga terkait dan pemerintah daerah.
"BMKG terus memperkuat koordinasi dan memberikan dukungan di bawah koordinasi BNPB, Basarnas, TNI-Polri, serta pemerintah daerah," ujarnya.
Faisal meminta masyarakat tidak mudah mempercayai informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan terkait perkembangan gempa. Imbauan tersebut mencakup kewaspadaan terhadap kabar bohong atau hoaks mengenai potensi bencana susulan.
Warga di wilayah terdampak juga diimbau menjauhi bangunan yang mengalami keretakan atau kerusakan akibat guncangan. Masyarakat diminta memastikan informasi kebencanaan melalui kanal resmi BMKG untuk memperoleh keterangan yang akurat.
Langkah tersebut diperlukan agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar selama kondisi pascagempa berlangsung. Upaya itu juga ditujukan untuk mengurangi risiko akibat informasi menyesatkan yang beredar di masyarakat.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....