Menko Pangan Beberkan Capaian Pemerintah Selama 20 Bulan
- 13 Agt 2026 17:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan membeberkan capaian selama 20 bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto
- Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengakui ada yang sukses dan ada juga yang belum berhasil
RRI.CO.ID, Tangerang - Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan membeberkan capaian selama 20 bulan pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) itu mengakui ada yang sukses dan ada juga yang belum berhasil.
"Pemerintahan ini baru 20 bulan, belum dua tahun. Saya akui ada yang berhasil, ada juga yang belum berhasil," ujar Zulkifli di UMJ, Ciputat, Kamis 13 Agustus 2026.
Zulkifli menyatakan misalnya di bidang pangan yang tugasnya mengamankan kebijakan pemerintah. Mengamankan suksesnya, tidak menjalankan hal-hal teknis.
"Alhamdulillah, karena kalau Menko itu tugasnya mengamankan kebijakan pemerintah. Mengamankan suksesnya, tidak menjalankan hal-hal teknis dan itu dilihat dari regulasi dan lain-lain," kata dia.
Kalau tidak sukses, sambung Zulkifli, artinya tugas Menko untuk menyukseskan, mengamankannya. "Yang berhasil misalnya pakan, alhamdulillah, dulu kita impor tahun 2024 4,2 juta ton pakan ternak, 2025 kita sudah tidak impor lagi dan yang kedua, yang belum berhasil, nelayan," ucapnya.
Dia menegaskan nelayan itu termasuk kondisi yang paling miskin. Nilai tukarnya 103, artinya kalau nelayan tidak diberi bantuan beras 10 kilogram, tidak diberikan bantuan tunai oleh pemerintah, dia tidak bisa makan dan tidak bisa menyekolahkan anaknya.
"Miskin dan ini masih diselesaikan untuk nelayan. Dampaknya kalau nelayan kita miskin, tidak berdaya, maka menurut laporan Menteri Kelautan, Rp200 triliun lebih ikan kita dicuri oleh nelayan-nelayan lain yang memiliki kemampuan, ada dari Thailand, ada dari Vietnam, ada dari Tiongkok.
"Betapa besar kerugian kita. Nah, ini kita lagi fokus sekarang tahun ini untuk menyelesaikan," ujarnya.
Zulkifli menegaskan ada juga yang tudak berhasil, misalnya Makan Bergizi Gratis (MBG). "Waduh, di sana banyak sekali problemnya, tentang tingkat ketepatan, ada salah masuk penjara," kata Zulkifli.
Menurutnya, sebulan dua bulan ini mudah-mudahan bisa diselesaikan, termasuk 4.000 sekolah yang berbasis agama bisa membuat dapur sendiri. "Termasuk tadi kampus ini (UMJ) juga punya dapur yang belum diselesaikan, insya Allah nanti kita selesaikan," ujarnya di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Ia juga menuturkan ada beberapa lagi misalnya yang belum sukses. Namuj, program-program Presiden Prabowo Subianto ini mendasar dan sebetulnya meluruskan kembali cita-cita Indonesia merdeka. Ekonominya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, pegangannya Pasal 33 Undang-Undang Dasar 1945 dan Pasal 34, itu arahnya.
"Oleh karena itu, programnya mendasar, besar dan berat serta tidak mudah. Maka ada yang berhasil dan ada yang belum berhasil," kata Zulkifli.
Zulkifli menambahkan membangun ekonomi desa misalnya, dengan Koperasi Desa (Kopdes). Banyak juga yang salah-salah, karena besar sekali.
"Diberi bahan murah, ada yang bikin di tengah-tengah gunung. Nanti itu akan kita tertibkan, oleh karena itu, yang berhasil alhamdulillah, yang belum berhasil doanya kita bisa selesaikan," ucapnya.
Sementara Ketua Umum PP Muhammadiyah, Haedar Nashir menuturkan tentu dengan apa yang dibangun, dengan apa yang diusahakan, sebenarnya tidak lain tidak bukan untuk kepentingan bangsa. "Maka kita berharap bahwa bangsa Indonesia yang semuanya ingin berharap maju kan, menjadi bangsa yang unggul," kata Haedar.
Presiden Prabowo Subianto dan semua elite bangsa ingin Indonesia menjadi bangsa dan negara yang bisa bersaing dengan bangsa lain. "Maka mari kita tata kehidupan kebangsaan ini sesuai dengan prinsip dasar konstitusi," ujarnya.
Kemudian juga kebersamaan yang dibangun untuk sesuatu yang lebih produktif, bukan sekadar kebersamaan yang sifatnya simbolik. Karena tantangan Indonesia, masalah Indonesia itu semakin berat dan memerlukan kebersamaan.
"Ketika ormas keagamaan, ketika dunia akademik atau kampus, ketika dunia pers atau media memberi kritik terhadap langkah-langkah pemerintah, langkah-langkah DPR, langkah-langkah lembaga hukum, peradilan, dan sebagainya. Semuanya itukan ingin membawa bangsa ini menjadi lebih maju, lebih berhasil sebagai bangsa yang bersaing dengan bangsa-bangsa yang lain," ucapnya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....