Kematian Gajah Yuna, BKSDA Aceh Perkuat Deteksi Dini EEHV
- 12 Agt 2026 23:40 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memperkuat pemantauan dan deteksi dini terhadap gajah anakan
- EEHV merupakan virus mematikan yang rentan menyerang gajah anakan
RRI.CO.ID, Jakarta — Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Aceh memperkuat pemantauan dan deteksi dini terhadap gajah anakan. Hal ini dilakukan menyusul kematian Yuna, gajah betina berusia di bawah tiga tahun di Pusat Latihan Gajah (PLG) Saree, Aceh.
Yuna yang merupakan anak dari gajah Suci dinyatakan mati pada Selasa, 11 Agustus 2026, malam. Berdasarkan diagnosis awal tim medis, Yuna diduga kuat mengalami serangan Elephant Endotheliotropic Herpesvirus (EEHV).
EEHV merupakan virus mematikan yang rentan menyerang gajah anakan. Kondisi Yuna diketahui memburuk secara cepat.
Pada Selasa pagi hingga siang, Yuna masih terlihat aktif seperti biasa. Namun, sekitar pukul 16.00 WIB, mahout menemukan Yuna dalam kondisi lemas, wajah membengkak, serta lidah pucat hingga membiru.
Tim dokter hewan BKSDA Aceh bersama mahout kemudian memberikan penanganan darurat berupa cairan infus dan multivitamin. Namun, kondisi Yuna terus menurun hingga akhirnya tidak tertolong pada pukul 20.48 WIB.
Kepala BKSDA Aceh Ujang Wisnu Barata mengatakan, pemeriksaan terhadap Yuna selama ini dilakukan secara rutin. Pemeriksaan Juni 2026 menunjukkan kondisi Yuna sehat dengan Body Condition Index Score (BCIS) 5,5 atau masih dalam ideal gajah.
“Penurunan kondisi Yuna sangat cepat. Berdasarkan diagnosis awal, kondisi tersebut dipicu serangan virus yang mematikan bagi anak gajah,” ujar Ujang, lewat keterangannya, Rabu, 12 Agustus 2026.
Ia menjelaskan, secara makroskopis ditemukan pembengkakan pada wajah, mata merah, dan mukosa lidah kebiruan. Sementara pemeriksaan awal juga menunjukkan adanya pendarahan pada organ pencernaan bagian dalam.
Untuk memastikan penyebab kematian, BKSDA Aceh telah mengambil sejumlah sampel organ. Sampel itu nantinya akan dilakukan pengujian laboratorium lebih lanjut.
| Baca juga: Bansos Reguler Triwulan 1 Tersalur 90 Persen |
EEHV merupakan virus herpes yang menginfeksi gajah, terutama gajah anakan. Virus tersebut dapat merusak lapisan dalam pembuluh darah sehingga menyebabkan kebocoran darah dan cairan tubuh ke organ dalam.
Kondisi itu dapat berkembang menjadi syok hingga kematian dalam waktu 24–48 jam. Kasus serupa sebelumnya terjadi pada gajah anakan Intan di CRU Trumon, Aceh Selatan, pada 2021.
Sebagai langkah antisipasi, BKSDA Aceh kini memperketat pemantauan terhadap gajah anakan lainnya. Pemeriksaan dan deteksi dini dilakukan khususnya terhadap gajah yang berusia di bawah 14 tahun.
“Kami segera melakukan uji medis dan deteksi dini terhadap gajah anakan lain, khususnya Gerry, Yuyun, dan Dilan. Untuk mengantisipasi dan meminimalkan potensi penyebaran virus tersebut,” kata Ujang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....