Konten Kreator Diingatkan Pentingnya Etika dan Privasi

  • 10 Agt 2026 08:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kasus EBM berakar dari pengabaian privasi sehingga berpotensi merugikan korban sekaligus mencederai kepercayaan publik terhadap kreator.
  • Konten kreator harus menjadi contoh karena tren yang dibuat sering diikuti banyak orang, jangan sampai mengganggu privasi korban,
  • Setiap kreator wajib memahami batas antara dokumentasi dan eksploitasi ketika merekam aktivitas masyarakat di ruang publik.

RRI.CO.ID, Jakarta - Konten Kreator, Albert Kevin Denny mengingatkan, pentingnya etika pembuatan konten menyusul ramainya pembahasan kasus konten kreator inisial EBM di media sosial. Ia berpandangan, persoalan tersebut berakar dari pengabaian privasi sehingga berpotensi merugikan korban sekaligus mencederai kepercayaan publik terhadap kreator.

“Konten kreator harus menjadi contoh karena tren yang dibuat sering diikuti banyak orang. Jangan sampai mengganggu privasi korban,” ujar Albert Kevin dalam dialog bersama PRO3 RRI ditulis, Senin, 10 Agustus 2026.

Albert menilai setiap kreator wajib memahami batas antara dokumentasi dan eksploitasi ketika merekam aktivitas masyarakat di ruang publik. Baginya, pengambilan gambar terhadap individu tanpa persetujuan berisiko memunculkan pelanggaran perlindungan data pribadi serta kesalahpahaman berkepanjangan.

“Kalau ingin melibatkan orang lain dalam konten, izin harus didahulukan. Supaya semua pihak merasa nyaman dan dihargai,” ucapnya.

Albert berpandangan perekaman suasana umum tetap diperbolehkan selama perhatian kamera tidak diarahkan kepada seseorang secara khusus. Ia meyakini kreator juga memikul tanggung jawab menghormati hak setiap individu karena privasi merupakan bagian penting etika bermedia digital.

“Fokuslah menggambarkan suasana. Bukan mengeksploitasi satu orang hingga menimbulkan tafsir yang merugikan,” ujarnya.

Ia menambahkan evaluasi sebelum maupun sesudah proses perekaman sangat diperlukan untuk mencegah munculnya persepsi keliru di masyarakat. Menurutnya, konten yang memicu keberatan sebaiknya segera dihapus sebagai bentuk penghormatan terhadap hak serta kenyamanan setiap individu.

Albert turut menggarisbawahi pentingnya meminta persetujuan sejak awal, memblur wajah bila diperlukan, serta menghormati permintaan penghapusan konten. Ia berharap kasus EBM menjadi pelajaran berharga agar kreator semakin mengedepankan etika, perlindungan data pribadi, dan literasi digital.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....