KH Ma’ruf Amin: Pemimpin NU Harus Mampu Melakukan Ishlah

  • 09 Agt 2026 00:15 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mantan Wakil Presiden RI, Prof KH Ma’ruf Amin, menegaskan pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) harus mampu melakukan ishlah atau perbaikan di tengah perbedaan.
  • Kiai Ma’ruf menilai karakter ishlah penting karena NU merupakan organisasi besar yang menaungi beragam kelompok dan elemen masyarakat.
  • NU sejak awal memiliki orientasi perjuangan untuk menghadirkan keadilan, keamanan, perbaikan kehidupan masyarakat, dan kemaslahatan.

RRI.CO.ID, Jakarta - Mantan Wakil Presiden RI, Prof KH Ma’ruf Amin, menegaskan pemimpin Nahdlatul Ulama (NU) harus mampu melakukan ishlah atau perbaikan di tengah perbedaan. Menurutnya, pemimpin NU tidak cukup hanya memiliki kemampuan organisatoris, tetapi juga harus mampu mendamaikan berbagai pihak.

“Seorang yang menjadi pemimpin NU harus mampu melakukan ishlah, mampu melerai pertikaian dan perbedaan. Selain itu mampu menghadirkan kedamaian,” ujar Kiai Ma’ruf dalam Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi di Gedung MPR RI, Jakarta, Sabtu, 8 Agustus 2026.

Kiai Ma’ruf menilai karakter ishlah penting karena NU merupakan organisasi besar yang menaungi beragam kelompok dan elemen masyarakat. Karena itu, pemimpin NU harus mampu menjadi perekat ketika terjadi perbedaan dan mengutamakan kepentingan bersama.

Ia juga mengingatkan kepemimpinan NU agar mengedepankan kemaslahatan organisasi dibanding kepentingan pribadi maupun kelompok. “Kepemimpinan selanjutnya harus mampu menggerakkan organisasi dengan semangat perjuangan dan pengabdian,” ucapnya.

Kiai Ma’ruf menegaskan NU tidak boleh hanya dipahami sebagai wadah berkumpul. Menurutnya, NU sejak awal memiliki orientasi perjuangan untuk menghadirkan keadilan, keamanan, perbaikan kehidupan masyarakat, dan kemaslahatan.

“NU bukan hanya sekadar kumpul-kumpul, tetapi membawa pergerakan besar. Perubahan itu baik dalam persoalan agama dan kemasyarakatan, ekonomi, politik, sosial, kebudayaan, kemanusiaan, maupun kebangsaan,” ujarnya.

Karena itu, ia mendorong NU terus menghidupkan semangat gerakan dan pengabdian kepada masyarakat. Aktivitas NU, kata dia, tidak boleh berhenti pada urusan internal organisasi, tetapi harus menghasilkan perubahan yang dirasakan langsung oleh masyarakat.

Di tengah persiapan Muktamar NU ke-35, Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng Jombang, KH Abdul Hakim Mahfudz atau Gus Kikin, mengakui namanya masuk dalam bursa calon Ketua Umum PBNU. Ia menyebut sejumlah nama lain juga muncul, antara lain KH Yahya Cholil Staquf, Prof Nasaruddin Umar, KH Zulfa Mustofa, Gus Rozin, dan Gus Salam.

“Ada banyak, ya saya termasuk dimunculkan. Kemudian ada Gus Yahya, Ketum yang sekarang, ada kemudian Prof Nasaruddin, ada Kiai Zulfa Mustofa, ada Gus Rozin, ada Gus Salam, cukup banyak,” ujar Gus Kikin.

Meski namanya masuk bursa, Gus Kikin belum menyatakan pencalonannya secara terbuka dan menyerahkan proses tersebut pada mekanisme Muktamar. “Nanti tergantung dari mekanisme pemilihan, dari tata tertib itu nanti bagaimana mekanismenya,” katanya.

Menurut Gus Kikin, penentuan Ketua Umum PBNU sepenuhnya menjadi kewenangan para muktamirin. “Siapa yang jadi Ketum ya itu tergantung dari muktamirin, siapa yang dipilih oleh muktamirin menjadi Ketum nanti,” ujarnya.

Muktamar NU ke-35 dijadwalkan berlangsung di Pesantren Darul Ulum Tambakberas, Jombang, pada 27-31 Agustus 2026. Gus Kikin berharap seluruh proses berjalan lancar dan menghasilkan keputusan terbaik agar NU semakin memberikan manfaat dan kemaslahatan bagi umat.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....