Fase Baru AI, Wamenkomdigi: Sekarang AI Dapat Mengambil Tindakan Sendiri

  • 07 Agt 2026 17:29 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Wamenkomdigi Nezar Patria menegaskan bahwa AI telah memasuki fase baru di mana teknologi ini tidak hanya menjawab pertanyaan tetapi juga mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan mengeksekusi tindakan secara mandiri.
  • Perkembangan AI yang pesat menuntut tata kelola yang akuntabel, transparan, dan berpihak pada kepentingan publik untuk memastikan pertanggungjawaban ketika tindakan AI salah.
  • Tantangan utama bukan hanya dari kemampuan AI itu sendiri, melainkan dari kesenjangan antara kecepatan perkembangan teknologi dengan kemampuan sistem tata kelola yang masih tertinggal.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria menegaskan, tata kelola kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), tidak boleh tertinggal. Hal itu disampaikan Wamenkomdigi Nezar, dalam acara Digital Transformation Indonesia Conference & Expo (DTI-CX) 2026.

Ia menuturkan bahwa saat ini AI telah memasuki fase baru, yang tidak lagi sekedar menjawab pertanyaan. Namun AI dalam perkembangannya kini, telah mampu merencanakan, mengambil keputusan, dan mengeksekusi tindakan secara mandiri.

Wamenkomdigi mengungkapkan, perubahan tersebut menuntut tata kelola yang mampu mengimbangi kecepatan inovasi. Sehingga dalam pemanfaatan AI tetap akuntabel, transparan, dan berpihak pada kepentingan publik.

"Ketika AI tidak lagi sekadar menjawab, namun mulai mengambil tindakan. Bagaimana kita meminta pertanggungjawaban, saat tindakan tersebut salah?," kata Nezar dalam keterangan resminya, dikutip di Jakarta, Jumat, 7 Agustus 2026.

Lebih lanjut dikatakannya, bahwa perubahan tersebut menghadirkan karakter risiko yang sama sekali baru dalam penggunaan AI. Selain itu, perubahan tersebut dinilai Wamenkomdigi, juga memiliki tantangan tersendiri.

Ia menjelaskan tantangan ini bukan hanya terkait perubahan kemampuan AI. Namun terdapat pula kesenjangan dalam kecepatan tata kelola, untuk mengimbangi perubahan kemampuannya.

"Tantangannya bukan semata-mata berasal dari kemampuan AI, melainkan dari kesenjangan antara kecepatan perkembangan teknologi dengan kemampuan tata kelola untuk mengimbanginya. Kondisi itu berpotensi memunculkan krisis etika dan akuntabilitas apabila tidak diantisipasi sejak dini," ujarnya.
google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....