Keanekaragaman Hayati Dinilai Jadi Kekayaan Utama Indonesia

  • 07 Agt 2026 10:44 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • KEHATI menyebut keanekaragaman hayati merupakan kekayaan terbesar Indonesia yang kerap terabaikan.
  • Ekosistem dan sumber daya genetik dinilai memiliki nilai ekonomi jangka panjang yang lebih besar dibandingkan eksploitasi sumber daya alam nonhayati.
  • KEHATI mengajak seluruh pihak menjaga keanekaragaman hayati demi kesejahteraan masyarakat dan generasi mendatang.

RRI.CO.ID, Jakarta - Direktur Eksekutif Yayasan KEHATI, Riki Frindos, menilai keanekaragaman hayati merupakan kekayaan terbesar Indonesia yang selama ini kerap terabaikan. Menurutnya, perhatian publik masih lebih banyak tertuju pada sumber daya alam nonhayati.

Sumber daya genetik Indonesia disebutnya sebagai ‘tambang emas’ yang tidak akan habis selama dijaga dan dimanfaatkan secara berkelanjutan. “Tapi superdaya non-hayati ini ada batasnya, satu saat akan habis,” ucap Riki, dalam acara ESG Awards 2026, di Jakarta, Kamis, 6 Agustus 2026.

Ia mencontohkan, pohon tidak hanya bernilai sebagai kayu. Tetapi juga menjadi bagian penting dari ekosistem yang menyediakan udara bersih, menyimpan air, hingga mengatur iklim.

Selain itu, sumber daya genetik yang dimiliki Indonesia juga dinilai berpotensi menghasilkan berbagai senyawa bernilai tinggi. Ini, menurutnya, dapat dimanfaatkan untuk pengembangan obat-obatan, pangan, kosmetik, dan berbagai produk lainnya.

“Kekayaan keanekaragaman non-hayati, yang selamanya akan bisa kita miliki selama kita jaga dan manfaatkan secara berkelanjutan. Tapi sayangnya sering kita abaikan atau setidaknya kita underestimate nilainya,” ujarnya.

Ia mengingatkan kekayaan alam Indonesia harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran seluruh rakyat, bukan hanya segelintir pihak. Menurutnya, menjaga keanekaragaman hayati merupakan investasi jangka panjang bagi kesejahteraan masyarakat dan generasi mendatang.

Sementara itu, Menteri Lingkungan Hidup, Jumhur Hidayat, mengatakan hilangnya keanekaragaman hayati telah berkembang menjadi risiko finansial. Menurut Jumhur, alam tidak lagi dapat dipandang sebagai sumber daya yang tersedia secara gratis.

Ia menegaskan, nilai ekonomi keanekaragaman hayati beserta potensi kerusakannya perlu diperhitungkan dalam setiap aktivitas investasi dan bisnis. “Ketika ekosistem terancam, portofolio investasi turut terpengaruh,” ujarnya.

Karena itu, investasi perlu diarahkan dari praktik yang merusak alam menuju investasi yang mendukung pelestarian lingkungan. “Telah banyak langkah berani menggeser investasi yang bersifat merusak nature negative menjadi nature positive,” katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....