BMKG: Gempa M5.3 Pangandaran Jawa Barat Tidak Berpotensi Tsunami

  • 06 Agt 2026 00:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Gempa bumi tektonik mengguncang Pangandaran, Jawa Barat pada Rabu 5 Agustus 2026 pukul 21:55:41 WIB dengan magnitudo M5.2 pada kedalaman 14 km.
  • Episenter gempa terletak 87 km arah baratdaya Pangandaran di lokasi laut dengan koordinat 8.17° LS; 107.86° BT.
  • Berdasarkan pemodelan tsunami BMKG, gempa bumi ini tidak berpotensi menimbulkan tsunami dan tidak menimbulkan ancaman pada wilayah pantai.

RRI.CO.ID, Jakarta - Gempa bumi di Pangandaran, Jawa Barat dengan kekuatan magnitudo 5,2 tidak berpotensi tsunami. Gempa bumi tektonik itu terjadi Rabu 5 Agustus 2026, 21:55:41 WIB.

Hasil analisis Badan Meteorologi,Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menunjukkan gempa bumi ini terjadi di kedalaman 14 km. Episenter gempa pada koordinat 8.17° LS; 107.86° BT, atau di laut pada jarak 87 Km arah baratdaya Pangandaran.

"Hasil pemodelan tsunami menunjukkan bahwa gempa bumi ini tidak berpotensi tsunami," kata Dr Wijayanto, Rabu malam 5 Agustus, 2026. Wijayanto adalah Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG

Dengan memperhatikan lokasi episenter dan kedalaman hiposenternya, gempa ini jenis gempa bumi dangkal akibat aktivitas di sesar aktif. Hasil analisis mekanisme sumber menunjukkan gempa ini memiliki mekanisme pergerakan geser naik ("oblique-thrust fault").

Berdasarkan laporan dari masyarakat, gempa bumi ini dirasakan dengan skala intensitas:

1. Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu di Kabupaten Bandung, Kecamatan Kertasari, Baleendah, Dayeuhkolot, Majalaya, Arjasari, Kecamatan Nagrak, dan Solokanjeruk.

2. Getaran dirasakan nyata dalam rumah. Terasa getaran seakan-akan ada truk berlalu di Soreang, Kab. Sukabumi, Kota Sukabumi, Pangalengan, dan Ciwidey.

3. Getaran dirasakan oleh beberapa orang, benda-benda ringan yang digantung bergoyang di Sumedang, Parongpong, Cihanjuang, Ngamprah, Lembang, dan Pelabuhan Ratu.

"Hingga pukul 22:30 WIB, BMKG mencatat adanya 1 (satu) gempa susulan ("aftershock"), dengan magnitudo M2.2," ucap Wijayanto. BMKG terus memonitor aktivitas gempa bumi susulan serta menyampaikan pemutakhiran informasi kepada stakeholder dan masyarakat.

"Masyarakat agar tetap tenang dan tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dan hindari dari bangunan yang retak atau rusak diakibatkan oleh gempa bumi," kata Wijayanto menambahkan..

Masyarakat juga diminta untuk memastikan informasi resmi hanya bersumber dari BMKG melalui kanal komunikasi resmi. Media yang dimaksud seperti media sosial @infoBMKG, website www.bmkg.go.id atau https://inatews.bmkg.go.id/web/detail?name=20260805215802&day=578, dan Mobile Apps infobmkg atau wrs-bmkg.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....