Wamenkomdigi Ungkap Pemerataan Internet Tak Lagi Bergantung pada BTS
- 05 Agt 2026 04:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengumumkan perubahan paradigma konektivitas nasional yang fokus pada pemerataan akses internet berbasis kondisi lokal.
- Pemerataan akses internet tidak lagi mengandalkan pembangunan BTS semata, melainkan disesuaikan dengan kondisi geografis, jumlah penduduk, dan kebutuhan di setiap wilayah.
- Perubahan kebijakan ini disampaikan dalam audiensi dengan Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur di Kantor Kemkomdigi Jakarta.
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria, mengatakan bahwa pemerintah mulai mengubah paradigma konektivitas nasional. Hal itu disampaikannya, saat menerima audiensi Dinas Komunikasi dan Informatika Provinsi Kalimantan Timur di Kantor Kemkomdigi, Jakarta.
Ia menjelaskan, pemerataan akses internet kedepannya, tidak lagi bergantung hanya pada pembangunan Base Transceiver Station (BTS). Namun diungkapkannya, pemerataan akses internet akan disesuaikan dengan kondisi geografis, jumlah penduduk dan kebutuhan di setiap wilayah.
Dengan pendekatan tersebut diungkapkan Wamenkomdigi, pemerintah akan memadukan infrastruktur BTS, fiber optik, satelit, dan teknologi lainnya. Tujuannya dijelaskan Nezar, agar layanan internet dapat menjangkau lebih banyak masyarakat, termasuk di daerah dengan medan yang sulit.
"Kita coba petakan mana yang prioritas. Yang mungkin tidak bisa ditembus dengan BTS, mungkin lewat satelit atau moda jaringan telekomunikasi yang lain," kata Nezar dalam keterangan resminya, Jakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Lebih lanjut Wamenkomdigi Nezar menilai, pendekatan tersebut diperlukan karena setiap wilayah memiliki karakteristik yang berbeda. Seperti dicontohkannya pada wilayah Provinsi Kalimantan Timur, yang telah mengkoneksikan 803 desa dari total 841 desa.
Ia juga menuturkan, pemerintah akan menentukan teknologi yang paling tepat berdasarkan kondisi di lapangan. Hal ini dijelaskannya, agar pembangunan konektivitas menjadi lebih efektif, dan menjangkau wilayah yang sulit memperoleh akses internet.
"Provinsi Kalimantan Timur salah satu yang terbaik dalam soal konektivitas 95,5 persen. Dari 841 desa itu yang sudah terkover 803," ujar Wamenkomdigi Nezar.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....