Hadapi Era AI, Perpustakaan Digital Diminta Tetap Berpusat pada Manusia
- 04 Agt 2026 13:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Transformasi perpustakaan digital harus tetap berpusat pada manusia, bukan hanya mengejar perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan (AI).
- Pustakawan memiliki peran strategis sebagai fasilitator literasi kritis, mediator teknologi, dan penjaga makna dalam menghadapi derasnya arus informasi digital.
- AI perlu diimbangi nilai-nilai kemanusiaan, sehingga teknologi tidak hanya mampu memberikan informasi dan rekomendasi, tetapi juga digunakan secara bijaksana dan bertanggung jawab.
RRI.CO.ID, Yogyakarta - Transformasi perpustakaan digital di tengah pesatnya perkembangan kecerdasan artifisial (AI) dinilai tidak cukup hanya mengandalkan kemajuan teknologi. Peran manusia, khususnya pustakawan, tetap menjadi kunci untuk memastikan informasi dimanfaatkan secara kritis, bertanggung jawab, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI) Joko Santoso mengatakan, perpustakaan digital saat ini tidak lagi sebatas menyediakan akses informasi. Perpustakaan juga memiliki peran sebagai fasilitator literasi kritis, mediator teknologi, serta pengarah dalam membangun budaya informasi yang sehat, inklusif, dan adaptif.
"KPDI ke-17 memiliki nilai strategis sebagai ruang bertemunya gagasan, inovasi, dan kolaborasi untuk memperkuat ekosistem perpustakaan digital di Indonesia," kata Joko Santoso dalam Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) XVII di Yogyakarta, Selasa, 4 Agustus 2026.
Senada, Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta menilai perkembangan AI harus berjalan beriringan dengan penguatan nilai-nilai kemanusiaan. Pesan tersebut disampaikan dalam sambutan Gubernur DIY yang dibacakan Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian dan Pembangunan, Noviar Rahmad.
Menurut Gubernur, di tengah derasnya arus informasi digital, perpustakaan tetap memiliki fungsi strategis sebagai ruang untuk menjaga akal sehat publik dan membimbing masyarakat. Sehingga, mampu memahami serta menggunakan informasi secara bertanggung jawab.
"AI boleh memberikan rekomendasi. Namun manusialah yang tetap memberikan pertimbangan. AI boleh membaca pola. Namun manusialah yang mampu membaca luka, harapan, kebutuhan, dan kemaslahatan sesama," demikian pesan Gubernur DIY.
Ia menambahkan, AI dapat dipandang sebagai irama baru yang bergerak cepat, sedangkan pustakawan berperan sebagai penjaga makna. Pustakawan memastikan teknologi digunakan secara bijaksana dan tetap berpijak pada kepentingan manusia.
Karena itu, perpustakaan diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan kemajuan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan. Dengan demikian, informasi yang tersedia tidak sekadar cepat diperoleh, tetapi juga dapat mendorong lahirnya kebijaksanaan.
Perpustakaan Dituntut Adaptif
Ketua Panitia Penyelenggara KPDI XVII Novy Diana Fauzie mengatakan, tema konferensi tahun ini dipilih sebagai respons terhadap perkembangan AI yang telah mengubah cara masyarakat mencari, mengakses, mengelola, memanfaatkan, hingga menyebarluaskan informasi.
Perubahan tersebut, kata dia, menuntut perpustakaan untuk terus beradaptasi. Penguatan kolaborasi, inovasi, serta kapasitas sumber daya manusia menjadi bagian penting dalam menghadapi perubahan ekosistem informasi tersebut.
KPDI XVII merupakan kolaborasi Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Perpustakaan Nasional Republik Indonesia (Perpusnas), Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), serta Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah Istimewa Yogyakarta. Penyelenggaraan KPDI tahun ini juga mencatat sejarah karena UMY menjadi perguruan tinggi swasta pertama yang dipercaya menjadi tuan rumah Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia.
Tidak hanya menghadirkan seminar ilmiah, KPDI XVII juga dilengkapi Call for Papers, Call for Posters, workshop berbasis best practices, klinik aplikasi dan perangkat lunak perpustakaan, serta kompetisi portal website perpustakaan. Konferensi juga menghadirkan narasumber internasional Mega Subramaniam dari University of Maryland dan Tom Rieger dari Rochester Institute of Technology, Amerika Serikat.
KPDI XVII juga memberikan ruang bagi peserta untuk mengembangkan publikasi ilmiah. Artikel hasil Call for Papers berpeluang dipublikasikan pada jurnal nasional terakreditasi SINTA maupun jurnal internasional bereputasi Scopus melalui proses seleksi dan review.
Diikuti 281 Peserta
Sebanyak 281 peserta dari berbagai daerah di Indonesia mengikuti KPDI XVII. Peserta didominasi pustakawan dan pengelola perpustakaan perguruan tinggi, kemudian perpustakaan khusus, perpustakaan umum, perpustakaan sekolah, dan berbagai jenis perpustakaan lainnya.
Sepuluh provinsi dengan jumlah peserta terbanyak berasal dari DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kalimantan Timur, Banten, Papua Tengah, Sumatera Utara, dan Kalimantan Selatan. Selain menjadi ruang pertukaran gagasan, KPDI XVII juga diarahkan menghasilkan rekomendasi strategis untuk pengembangan perpustakaan digital nasional.
Forum tersebut sekaligus menjadi momentum pengumuman Universitas Negeri Surabaya (UNESA) sebagai tuan rumah KPDI XVIII pada 2027, pemilihan calon tuan rumah KPDI XIX 2028, serta pemberian penghargaan kepada pemakalah, poster ilmiah, dan portal website perpustakaan terbaik.
Mengusung tema "Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan", KPDI XVII mempertemukan pustakawan, akademisi, peneliti, praktisi teknologi informasi, pengembang sistem perpustakaan, serta pemangku kepentingan lainnya.
Konferensi tersebut diharapkan memperkuat kolaborasi dan kapasitas ekosistem perpustakaan digital Indonesia agar mampu menghadapi perubahan teknologi tanpa kehilangan orientasi pada manusia.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....