PMI Manufaktur Naik, Kebijakan Strategis Pemerintah Jadi Penopang

  • 04 Agt 2026 11:57 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif menyatakan pemulihan industri manufaktur diperkuat oleh dua kebijakan strategis pemerintah yakni kepastian HGBT dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik.
  • PMI Manufaktur Indonesia Juli 2026 meningkat signifikan menjadi 50,2 dari 46,9 pada Juni 2026, menandai kembalinya ke zona ekspansi pada awal kuartal III-2026.
  • Kedua kebijakan pemerintah tersebut dirancang untuk menopang kepastian iklim usaha dan meningkatkan efisiensi biaya produksi dalam industri manufaktur.

RRI.CO.ID, Jakarta - Juru Bicara Kementerian Perindustrian Febri Hendri Antoni Arif mengatakan tren pemulihan industri manufaktur semakin diperkuat dua kebijakan strategis pemerintah. Menurutnya, kepastian HGBT dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik menopang kepastian iklim usaha serta efisiensi biaya produksi industri.

Berdasarkan rilis S&P Global, PMI Manufaktur Indonesia Juli 2026 mencapai 50,2 meningkat dari 46,9 pada Juni 2026. Capaian tersebut menandai kembalinya PMI Manufaktur Indonesia ke zona ekspansi pada awal kuartal III-2026.

"Kami menyambut baik kembalinya PMI Manufaktur Indonesia ke level ekspansif 50,2 pada Juli 2026. Kenaikan 3,3 poin dari bulan Juni ini mengonfirmasi bahwa roda produksi industri pengolahan kembali bergerak cepat," ujar Febri di Jakarta, Senin, 3 Agustus 2026.

Febri menjelaskan kenaikan PMI ditopang oleh kembali meningkatnya volume produksi untuk pertama kalinya sejak Februari 2026. Ia menambahkan stabilisasi pesanan baru serta kembali tumbuhnya penyerapan tenaga kerja setelah empat bulan mengalami penyesuaian turut menopang pemulihan industri.

Survei S&P Global juga menunjukkan tingkat optimisme pelaku usaha untuk 12 bulan ke depan mencapai level tertinggi dalam enam bulan terakhir. Selain itu, laju kenaikan harga bahan baku melambat ke level terendah dalam empat bulan.

Febri mengatakan pemulihan industri turut diperkuat oleh kepastian kebijakan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT). Ia menjelaskan kebijakan tersebut memberikan kepastian pasokan dan harga energi terjangkau menjaga daya saing industri pengguna gas bumi.

"Kebijakan ini memberikan dampak yang sangat positif bagi industri pengguna gas bumi. Kepastian pasokan dan harga energi yang terjangkau menjaga daya saing sektor industri manufaktur vital termasuk pupuk, petrokimia, oleokimia,” kata Febri.

Industri pupuk, petrokimia, keramik, kaca, baja, sarung tangan karet, dan oleokimia menjadi sektor yang memperoleh manfaat kebijakan tersebut. Dampaknya tercermin pada meningkatnya optimisme pelaku usaha untuk 12 bulan ke depan.

Di sisi lain, Kementerian Perindustrian mengapresiasi berlakunya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) tentang relaksasi bea masuk impor bahan baku plastik. Kebijakan tersebut dinilai membantu menekan beban biaya produksi industri nasional.

Relaksasi tersebut memberikan manfaat bagi industri kemasan, makanan dan minuman, otomotif, serta elektronika. Kebijakan itu juga membantu meredam tekanan inflasi biaya input akibat gejolak nilai tukar dan pasokan global.

Febri menegaskan kepastian HGBT dan relaksasi bea masuk bahan baku plastik membantu menjaga struktur biaya industri tetap efisien. Menurut dia, kedua kebijakan tersebut juga mendorong meningkatnya optimisme pelaku usaha.

"Kombinasi antara kepastian HGBT dan berlakunya PMK relaksasi bea masuk bahan baku plastik membuktikan kehadiran pemerintah menjaga struktur biaya industri efisien. Langkah konkret ini terbukti meredam tekanan biaya input hingga level terendah empat bulan terakhir sekaligus memacu optimisme industri,” ucap Febri.

Meski demikian, Kementerian Perindustrian mengimbau pelaku industri tetap mewaspadai dinamika rantai pasok global dan fluktuasi nilai tukar. Pemerintah juga berkomitmen menjaga ketersediaan bahan baku, keterjangkauan energi, serta perlindungan pasar domestik demi pemulihan industri.

Pada Juli 2026, PMI Manufaktur Indonesia berada di level 50,2 sehingga kembali masuk zona ekspansi. Indonesia juga menjadi salah satu negara di kawasan yang mencatat pertumbuhan sektor manufaktur pada periode tersebut.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....