PSEL Legok Nangka Siap Olah 2.131 Ton Sampah per Hari Menjadi Energi Listrik
- 30 Jul 2026 14:33 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- PSEL Legok Nangka dibangun untuk mengolah 2.131 ton sampah per hari dari enam kabupaten dan kota di Jawa Barat menjadi listrik berkapasitas 40,79 megawatt
- Wakil Menteri ESDM Yuliot menegaskan pembangunan proyek mendukung arahan Presiden Prabowo Subianto menyelesaikan persoalan sampah perkotaan sebelum 2029 melalui skema waste-to-energy
- Proyek senilai USD 400 juta atau sekitar Rp7,2 triliun ditargetkan beroperasi pada 2029, menyerap 1.565 tenaga kerja, dan mengurangi emisi 311.874 ton CO2 ekuivalen
RRI.CO.ID, Bandung - Pengolah Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) Legok Nangka disiapkan untuk mengolah 2.131 ton sampah harian dari enam kabupaten dan kota di Jawa Barat. Fasilitas tersebut ditargetkan menghasilkan listrik berkapasitas 40,79 megawatt sekaligus mengurangi beban sampah yang selama ini menumpuk di tempat pemrosesan akhir.
Pembangunan PSEL Legok Nangka dimulai melalui prosesi groundbreaking di kawasan TPPAS Regional Legok Nangka, Kabupaten Bandung, Rabu, 29 Juli 2026. Acara tersebut dihadiri Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Yuliot yang mewakili Menteri ESDM Bahlil Lahadalia.
Dalam sambutannya, Yuliot menyampaikan pengelolaan sampah perkotaan secara menyeluruh merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto kepada seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, langkah tersebut menjadi bagian penting dalam mempercepat penyelesaian persoalan sampah melalui pendekatan yang terintegrasi.
"Sebagaimana telah instruksikan oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto dalam banyak kesempatan untuk menyelesaikan persoalan sampah perkotaan. Secara menyeluruh sebelum tahun 2029 melalui skema hulu hilir dan dapat menjadikan sampah sebagai sumber energi (Waste to Energy)," ujarnya saat prosesi groundbreaking di kawasan TPPAS Regional Legok Nangka, Kabupaten Bandung, Rabu, 29 Juli 2026.
Yuliot menjelaskan arahan tersebut mendorong seluruh instansi terkait menghadirkan solusi konkret terhadap persoalan sampah perkotaan yang terus meningkat. Ia menilai penanganan yang tidak optimal berpotensi memicu berbagai persoalan lingkungan, termasuk longsor dan kebakaran.
"Groundbreaking hari ini bukan sekadar menandai dimulainya pembangunan sebuah infrastruktur. Tetapi juga menjadi simbol komitmen bersama untuk mewujudkan masa depan Indonesia yang lebih bersih, lebih hijau, dan berkelanjutan," ucapnya.
Yuliot berharap PSEL Legok Nangka menjadi contoh pengembangan fasilitas pengolahan sampah menjadi energi yang dapat diterapkan di berbagai daerah. Menurutnya, proyek tersebut diharapkan mendorong pemanfaatan sampah sebagai sumber energi bersih yang berkelanjutan.
"Proyek ini diharapkan memberikan manfaat nyata melalui pengurangan volume sampah, penyediaan energi bersih, penciptaan lapangan kerja. Peningkatan aktivitas ekonomi daerah, pengurangan emisi serta perbaikan kualitas lingkungan dan kesehatan masyarakat," kata Yuliot.
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi menyatakan PSEL Legok Nangka ditargetkan mulai beroperasi pada 2029 dengan menghadirkan tiga manfaat utama bagi masyarakat. Ketiga manfaat tersebut meliputi penanganan sampah Bandung Raya, penyediaan pasokan listrik, serta terciptanya lingkungan yang lebih bersih.
Proyek ‘waste-to-energy’ senilai USD 400 juta atau sekitar Rp7,2 triliun tersebut dirancang memiliki kapasitas pembangkit 40,79 megawatt. Selama 41 bulan konstruksi, proyek diperkirakan menyerap 1.565 tenaga kerja serta menurunkan emisi gas rumah kaca sebesar 311.874 ton CO2 ekuivalen.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....