BRIN Perkuat Teknologi Ketahanan Air Hadapi Ancaman El Nino

  • 29 Jul 2026 04:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bakal memperkuat teknologi ketahanan air nasional.
  • Hal tersebut perintah langsung Presiden Prabowo Subianto guna mengantisipasi dampak fenomena El Nino

RRI.CO.ID, Tangerang – Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) akan memperkuat pengembangan teknologi ketahanan air nasional untuk mengantisipasi dampak fenomena El Nino. Langkah tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto guna mengurangi risiko kekeringan di berbagai wilayah.

Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan pihaknya telah memaparkan berbagai inovasi teknologi air kepada Presiden. Paparan tersebut dilakukan dalam rapat terbatas mengenai cuaca ekstrem di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa 28 Juli 2026.

Arif menjelaskan BRIN memperkenalkan 13 teknologi yang dikelompokkan ke dalam empat kategori utama. Teknologi tersebut dirancang untuk memperkuat ketahanan air nasional menghadapi perubahan iklim.

Kategori pertama adalah teknologi modifikasi cuaca yang kini dapat dilakukan lebih efisien melalui pemanfaatan teknologi terbaru. Salah satunya menggunakan drone untuk menyebarkan material Dumikron berbahan natrium klorida (NaCl) berukuran 2–5 mikron.

"Kedua, teknologi air marjinal, antara lain melalui teknologi biofiltrasi untuk air payau, air gambut. Ada air limbah dan air laut, termasuk teknologi desalinasi air laut," ujar Arif.

Ia menambahkan kategori ketiga berfokus pada eksplorasi sungai bawah tanah menggunakan teknologi isotop, geofisika ground penetrating radar (GPR), dan metode lainnya. Sementara kategori keempat memanfaatkan air tanah tawar yang mengalir ke laut melalui akuifer pesisir (fresh submarine groundwater discharge).

Menurut Arif, Presiden Prabowo memberikan perhatian khusus terhadap pengembangan teknologi desalinasi air laut. Juga pada eksplorasi sungai bawah tanah, dan pemanfaatan air tanah tawar di kawasan pesisir.

"Bapak Presiden meminta BRIN untuk memperkuat teknologi desalinasi air laut. Serta teknologi tipe 3 dan 4, yakni eksplorasi sungai bawah tanah baik di darat maupun di wilayah pesisir," katanya.

Arif menambahkan BRIN telah berkoordinasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) untuk mempercepat implementasi berbagai teknologi tersebut di sejumlah lokasi prioritas. "Saat ini BRIN dengan Kementerian PU sudah berkoordinasi untuk percepatan langkah aksi di sejumlah titik," ujarnya.

Sementara itu, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyiapkan sejumlah langkah untuk mengurangi dampak kemarau panjang di wilayah Jabodetabek. Salah satu upaya yang disiapkan adalah operasi modifikasi cuaca (OMC) atau hujan buatan.

Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, mengatakan pelaksanaan OMC di Jakarta dan sekitarnya akan dilakukan sesuai kondisi di lapangan. Operasi tersebut digelar apabila periode tanpa hujan berlangsung cukup lama.

"Kalau di Jakarta situasional ya, jadi BMKG bekerja sama dengan BPBD DKI Jakarta secara situasional melihat kondisi yang ada di Jakarta. Ketika hari tanpa hujan sudah cukup panjang, maka dilakukan operasi modifikasi cuaca," ujar Teuku.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....