Siswa Sekolah Rakyat Ramaikan JFC 2026
- 26 Jul 2026 20:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Siswa Sekolah Rakyat Jember menampilkan kostum hasil rancangan berbahan daur ulang saat mengikuti Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 di Jember, Jawa Timur, Minggu (26/7/2026).
- Siswa menampilkan kostum hasil rancangan sendiri berbahan daur ulang sebagai wujud kreativitas, kepercayaan diri, dan kepedulian terhadap lingkungan
- Kemensos menilai keikutsertaan ini membuktikan Sekolah Rakyat mampu melahirkan generasi inovatif yang siap berkarya di panggung nasional maupun internasional
- Kemensos menilai keikutsertaan ini membuktikan Sekolah Rakyat mampu melahirkan generasi inovatif yang siap berkarya di panggung nasional maupun internasional
- Siswa tampil dalam kategori World Kid Pets dan Grand Carnival dengan empat konsep kostum: Concience, Noise, Roots, dan Riberth
RRI.CO.ID, Jember – Sebanyak 15 siswa Sekolah Rakyat Jember turut ambil bagian dalam ajang Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 yang berlangsung pada 24–26 Juli 2026. Keikutsertaan tersebut menjadi wadah bagi para siswa untuk mengasah kreativitas, membangun kepercayaan diri, sekaligus memperkenalkan karya yang dibuat dari bahan daur ulang.
Tenaga Ahli Menteri Sosial Fajar WH mengatakan partisipasi siswa Sekolah Rakyat pada ajang bertaraf internasional itu menjadi bukti bahwa program tersebut mampu melahirkan generasi yang inovatif dan berani berkarya.
"Kemensos turut bangga atas kreativitas siswa Sekolah Rakyat di ajang JFC 2026 karena berani memamerkan kostum hasil rancangan dan olahan tangan mereka sendiri yang dibuat dari nol," ujar Fajar di Jember, Jawa Timur, Minggu 26 Juli 2026.
Menurutnya, keikutsertaan dalam JFC menjadi momentum untuk menunjukkan kepada masyarakat bahwa Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan akses pendidikan, tetapi juga mengembangkan potensi, kreativitas, dan rasa percaya diri peserta didik agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.
Para siswa tampil dalam dua sesi JFC 2026, yakni World Kid Pets dan Grand Carnival. Mereka membawakan empat konsep kostum, yaitu Concience, Noise, Roots, dan Riberth, dengan tampilan mulai dari ksatria gladiator, ekspresi emosi, hingga rumah adat Minangkabau.
Kepala Sekolah Rakyat Jember, Kartika Sari Dewi, mengatakan seluruh proses pembuatan kostum melibatkan siswa sejak tahap perencanaan hingga penyelesaian akhir. Pengerjaan head piece bahkan memakan waktu hampir satu bulan sebelum dilanjutkan dengan pembuatan busana, sayap, dan aksesori lainnya.
"Ini keikutsertaan kami pertama kali di JFC. Jadi sangat menantang karena proses panjang ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi para siswa. Ini tidak hanya melatih kreativitas, tetapi juga mengajarkan kerja sama tim dan nilai tanggung jawab," kata Kartika.
Ia menjelaskan sebagian besar kostum dibuat menggunakan material daur ulang sehingga sekaligus mengajarkan kepedulian terhadap lingkungan sesuai tema JFC tahun ini.
Salah seorang siswa Sekolah Rakyat, Halimah Caraisa Humayroh, mengaku bangga dapat tampil dalam ajang bergengsi tersebut. Selama sekitar empat bulan, dirinya bersama tim mempersiapkan seluruh kebutuhan mulai dari desain hingga penyelesaian kostum.
"Senang bisa mengikuti event mendunia ini, dapat pengalaman pembelajaran cara membuat baju-baju yang unik sama kesabaran," ujarnya.
Hal serupa disampaikan siswa lainnya, Sava Aurotun Nisa. Ia mengatakan kesempatan tampil di JFC menjadi pengalaman yang belum tentu diperoleh jika tidak bergabung di Sekolah Rakyat. "Bahagia karena kesempatan langka," katanya.
Memasuki penyelenggaraan ke-24, JFC 2026 mengusung tema HEAL (Humanity, Earth, and Life) sebagai refleksi pentingnya menjaga hubungan antara manusia, alam, dan kehidupan. Karnaval ini menghadirkan lebih dari 1.500 talenta dari berbagai daerah dan mancanegara serta menjadi salah satu agenda pariwisata unggulan Indonesia.
Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana mengatakan JFC tidak hanya menampilkan karya fesyen, tetapi juga menjadi ruang untuk memperkenalkan identitas bangsa kepada dunia.
"Di hadapan kita hari ini tak hanya melintas kostum memukau, tapi kisah Indonesia dan warisan budaya dan ada identitas bangsa yang diterjemahkan jadi karya kelas dunia," ujarnya.
Sementara itu, Bupati Jember Muhammad Fawait menilai JFC memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat. Menurutnya, penyelenggaraan karnaval mampu menggerakkan sektor perhotelan, UMKM, hingga pekerja informal, sekaligus mendukung upaya pengentasan kemiskinan di Kabupaten Jember.
Ia menyebut pertumbuhan ekonomi Jember pada awal 2026 menjadi yang tertinggi di kawasan Tapal Kuda dan meyakini sektor pariwisata, termasuk JFC, menjadi salah satu faktor pendorongnya.
"Dengan manfaat ekonomi luar biasa dan ini yang dipesankan Presiden bahwa Pemkab Jember melalui JFC mewujudkan itu semua. Dampaknya nyata terhadap pekerja informal, UMKM," ujar Fawait.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....