FABC Tekankan Pertobatan Demi Martabat Manusia
- 24 Jul 2026 23:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Sidang Pleno XII FABC menegaskan pentingnya pertobatan sebagai dasar menghormati martabat manusia dan mewujudkan kebaikan bersama
- Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan ajakan pertobatan ditujukan tidak hanya kepada umat Katolik, tetapi juga para pengambil kebijakan
- Penghormatan terhadap martabat manusia disebut sebagai prinsip utama ajaran sosial Gereja Katolik
- FABC menilai setiap kebijakan publik perlu mengutamakan nilai kemanusiaan dan kepentingan bersama
- Pastor Clarence Devadass mengatakan sidang diawali dengan refleksi atas perubahan geopolitik, sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan di Asia
RRI.CO.ID, Jakarta – Sidang Pleno XII Federasi Konferensi Waligereja Asia (FABC) menekankan pentingnya pertobatan sebagai landasan menghormati martabat manusia dan mewujudkan kebaikan bersama. Uskup Agung Jakarta Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan ajakan tersebut tidak hanya ditujukan kepada umat Katolik, tetapi juga kepada para pengambil kebijakan.
Kardinal Ignatius Suharyo mengatakan tema Sidang Pleno XII FABC mengajak setiap orang untuk membangun pertobatan yang diwujudkan melalui tindakan nyata. Menurutnya, para pengambil kebijakan memiliki tanggung jawab menghadirkan kehidupan bersama yang menghormati martabat manusia.
"Ajakan pertobatan itu bukan hanya ditujukan kepada umat Katolik. Tetapi juga kepada para pengambil kebijakan," katanya dalam konferensi pers FABC Plenary Assembly 2026 di Hotel Mulia Jakarta, Jumat 24 Juli 2026.
Ia mengatakan penghormatan terhadap martabat manusia menjadi salah satu prinsip utama ajaran sosial Gereja. Prinsip tersebut juga berkaitan dengan upaya mewujudkan "common good" atau kebaikan bersama dalam kehidupan masyarakat.
Menurut Kardinal Suharyo, semangat pertobatan menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi masyarakat Asia. Karena itu, setiap keputusan yang diambil hendaknya mengutamakan nilai kemanusiaan dan kepentingan bersama.
Sementara itu, Sekretaris Eksekutif Kantor Sinodalitas FABC, Pastor Clarence Devadass, mengatakan Sidang Pleno XII diawali dengan refleksi mengenai perubahan geopolitik, sosial, ekonomi, budaya, dan lingkungan yang memengaruhi kehidupan masyarakat Asia. Menurutnya, Gereja tidak hidup dalam ruang hampa sehingga perlu memahami perubahan tersebut sebelum menentukan arah misinya.
Pastor Clarence mengatakan para uskup dan delegasi dari berbagai negara Asia juga saling berbagi pengalaman menjalankan sinodalitas di Gereja lokal masing-masing. Pengalaman tersebut meliputi praktik mendengarkan umat, membangun partisipasi, menjalankan proses penegasan bersama, serta memperkuat misi Gereja di tengah masyarakat.
"Melalui berbagi pengalaman ini, kami berharap dapat saling belajar, saling menginspirasi. Serta menemukan cara-cara baru untuk bekerja sama sebagai Gereja-Gereja di Asia," katanya.
Wakil Presiden FABC, Kardinal Pablo Virgilio David, menegaskan sinodalitas bukanlah tujuan akhir Gereja. Menurutnya, sinodalitas merupakan jalan agar Gereja semakin mampu menjalankan misinya di tengah perubahan yang terjadi di Asia.
Ia mengatakan Gereja tidak boleh hanya berfokus pada kehidupan internal. Sebaliknya, Gereja dipanggil semakin terbuka terhadap kebutuhan umat dan tantangan zaman melalui semangat berjalan bersama.
"Sebab, kita memiliki kecenderungan yang kuat untuk hanya berfokus pada diri sendiri. Kemudian mempertahankan apa yang sudah biasa kita lakukan," katanya.
Pandangan tersebut diperkuat Sekretaris Jenderal Sinode, Kardinal Mario Grech. Ia mengatakan Gereja Katolik kini memasuki tahap implementasi hasil Sinode tentang Sinodalitas yang telah diterima oleh Gereja universal.
Menurut Kardinal Mario, sinode bukan lagi dipahami sebagai proses yang hanya melibatkan para uskup. Sinode merupakan perjalanan seluruh Gereja sehingga setiap Gereja lokal dipanggil menghidupi semangat sinodal dalam pelaksanaan misinya.
Ia menambahkan Gereja-Gereja di Asia memiliki pengalaman berharga yang dapat dipersembahkan kepada Gereja universal. Pengalaman tersebut akan menjadi bagian dari proses implementasi Sinode menuju Sidang Gerejawi pada 2028.
"Saya datang ke sini bukan terutama untuk mengajar bagaimana menyampaikan pidato-pidato penting. Sejujurnya, saya datang karena saya menyadari bahwa benua Asia memiliki kekayaan rohani yang luar biasa dan sungguh dapat memberikan kontribusi besar bagi misi seluruh Gereja," katanya.
"Sebagaimana ditekankan oleh saudara saya, Kardinal Pablo, meskipun tema sinode adalah "Sinodalitas bagi Gereja Sinodal", tujuan akhirnya tetaplah misi Gereja," katanya.
Sidang Pleno XII FABC masih akan berlanjut hingga akhir pekan dengan membahas sejumlah dokumen dan menyusun pesan akhir sidang. Hasil sidang tersebut diharapkan menjadi arah bersama Gereja Katolik di Asia dalam menjalankan misi pelayanan di tengah berbagai tantangan zaman.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....