Wamenhut: Keanekaragaman Hayati Jadi Penopang Kehidupan
- 22 Jul 2026 18:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Serta penyangga kehidupan masyarakat
- Ia mengatakan Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas memiliki lebih dari 17 persen kekayaan hayati dunia
- Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menegaskan keanekaragaman hayati Indonesia memiliki peran penting sebagai penopang ketahanan pangan, sumber obat-obatan, pengatur iklim
RRI.CO.ID, Jakarta - Wakil Menteri Kehutanan (Wamenhut) Rohmat Marzuki menegaskan keanekaragaman hayati Indonesia memiliki peran penting sebagai penopang ketahanan pangan, sumber obat-obatan, pengatur iklim. Serta penyangga kehidupan masyarakat.
Ia mengatakan Indonesia sebagai salah satu negara megabiodiversitas memiliki lebih dari 17 persen kekayaan hayati dunia. Tentu perlu dijaga secara berkelanjutan.
"Indonesia sebagai salah satu negara mega biodiversitas menyimpan lebih dari 17 persen kekayaan hayati dunia. Kekayaan tersebut menjadi fondasi ketahanan pangan, sumber obat-obatan, pengatur iklim, sekaligus penyangga kehidupan bagi ratusan juta penduduk Indonesia," kata Rohmat, Rabu, 22 Juli 2026.
Menurut Rohmat, keanekaragaman hayati saat ini menghadapi berbagai tantangan, antara lain perubahan penggunaan lahan, perubahan iklim, eksploitasi berlebihan, dan masuknya spesies asing invasif. Ia menilai upaya pelestarian perlu dilakukan secara terukur, berbasis sains, dan berorientasi jangka panjang agar keberlanjutan keanekaragaman hayati tetap terjaga.
Rohmat mengatakan dokumen Status Keanekaragaman Hayati Papua, Bali-Nusa Tenggara, Jawa, dan Maluku yang disusun Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas menjadi salah satu rujukan penting. Dalam mendukung pelaksanaan Indonesia Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) 2025–2045.
Dokumen tersebut memuat informasi ilmiah mengenai kondisi spesies dan ekosistem di empat kawasan biogeografis utama Indonesia. Termasuk indikator Red List Index (RLI) yang menggambarkan tingkat risiko kepunahan spesies.
Pemerintah menargetkan peningkatan nilai RLI Indonesia dari 0,75 pada 2024 menjadi 0,76 pada 2029. Melalui berbagai program pelestarian yang tercantum dalam Rencana Strategis Kementerian Kehutanan 2025–2029.
Rohmat juga mengajak kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi. Serta masyarakat untuk memanfaatkan dokumen tersebut sebagai acuan dalam penyusunan kebijakan, perencanaan program, dan pengalokasian sumber daya.
Menurutnya, kolaborasi lintas sektor serta pemanfaatan data yang akurat menjadi kunci. Dalam mendukung kebijakan berbasis bukti sekaligus menjaga kelestarian keanekaragaman hayati bagi generasi mendatang.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....