LSF: 72 Persen Masyarakat Kini Menonton Lewat Internet
- 22 Jul 2026 04:15 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- LSF mengungkapkan 72 persen masyarakat Indonesia kini mengakses tontonan melalui internet
- LSF mengajak masyarakat menerapkan budaya sensor mandiri dengan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia
- Anak-anak dinilai rentan terpapar konten digital yang belum melalui proses filtrasi dan kurasi
- LSF menerbitkan sekitar 41 ribu Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) setiap tahun sebagai bagian dari pengawasan perfilman
- Literasi GNBSM di Depok diikuti 332 mahasiswa dan komunitas melalui diskusi serta nonton bareng film nasional
RRI.CO.ID, Jakarta – Lembaga Sensor Film (LSF) mengungkapkan sekitar 72 persen masyarakat Indonesia kini mengakses tayangan melalui internet, mulai dari layanan over the top (OTT), video on demand, hingga media sosial. Kondisi tersebut dinilai semakin meningkatkan pentingnya literasi masyarakat dalam memilih tontonan sesuai klasifikasi usia.
Ketua LSF RI Naswardi mengatakan perubahan pola konsumsi masyarakat itu terungkap berdasarkan hasil Survei Nasional LSF 2024. Menurutnya, kemudahan mengakses konten digital harus diimbangi dengan kesadaran masyarakat untuk menerapkan budaya sensor mandiri.
"Mari menjadi bagian dari literasi budaya sensor mandiri, menjadi bagian dari duta yang terus memberikan literasi kepada orang-orang terdekat kita. Dengan memilih tontonan sesuai klasifikasi usia kita masing-masing," kata Naswardi saat membuka Literasi Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) di CGV Depok Mall, Selasa 21 Juli 2026.
Naswardi menjelaskan tidak semua konten yang beredar di media sosial telah melalui proses filtrasi dan kurasi sebagaimana film yang diputar di bioskop maupun televisi. Akibatnya, anak-anak menjadi kelompok yang paling rentan terpapar konten dewasa, seperti pornografi, kekerasan, perjudian, narkotika, dan konten sensitif lainnya.
Ia menambahkan LSF setiap tahun menerbitkan sekitar 41 ribu Surat Tanda Lulus Sensor (STLS) sebagai pelaksanaan amanat Undang-Undang Nomor 33 Tahun 2009 tentang Perfilman. Selain itu, film dari 33 negara yang masuk ke Indonesia juga menjalani proses penilaian sebelum dapat diedarkan kepada masyarakat.
Untuk memperkuat literasi publik, LSF menggelar Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri yang dirangkaikan dengan pemutaran film nasional Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis. Kegiatan tersebut diikuti 332 mahasiswa dan anggota komunitas yang diharapkan menjadi agen perubahan dalam memilih tontonan sesuai klasifikasi usia.
Sementara itu, Wakil Wali Kota Depok Chandra Rahmansyah menyatakan Pemerintah Kota Depok mendukung penuh pelaksanaan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri. Menurutnya, penunjukan Depok sebagai salah satu lokasi pencanangan gerakan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan edukasi kepada masyarakat.
Chandra menilai film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga sebagai media pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda. Ia mengatakan film Jangan Buang Ibu dan Takkan Kubiarkan Kau Menangis menyampaikan pesan moral tentang pentingnya komunikasi antara orang tua dan anak dalam kehidupan sehari-hari.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....