Harga Bawang Putih Dinilai Butuh Perbaikan Tata Kelola Impor

  • 30 Jul 2026 06:17 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lonjakan harga bawang putih dipicu pelemahan rupiah serta meningkatnya biaya logistik internasional.
  • Pemerintah perlu segera memperkuat instrumen cadangan nasional melalui kewajiban tanam bagi seluruh importir bawang putih.
  • Stok penyangga memadai mampu meredam gejolak harga ketika nilai tukar maupun ongkos logistik internasional mengalami kenaikan tajam.
  • Kementerian Pertanian (Kementan) serta Kementerian Perdagangan (Kemendag) harus memperbaiki tata niaga impor agar distribusi berlangsung lebih merata nasional

RRI.CO.ID, Jakarta - Pengamat Ekonomi Pertanian Institut Pertanian Bogor (IPB), Prima Gandhi, memaparkan lonjakan harga bawang putih dipicu pelemahan rupiah serta meningkatnya biaya logistik internasional. Menurutnya, ketergantungan impor membuat harga bawang putih domestik semakin rentan menghadapi perubahan kurs serta biaya distribusi global secara signifikan.

“Masalah logistik internasional, biaya kontainer, serta premi risiko pelayaran menjadi faktor yang ikut mendorong kenaikan harga bawang putih,” tutur Prima Gandhi kepada PRO3 RRI.

Prima berpandangan pemerintah perlu segera memperkuat instrumen cadangan nasional melalui kewajiban tanam bagi seluruh importir bawang putih. Baginya, stok penyangga memadai mampu meredam gejolak harga ketika nilai tukar maupun ongkos logistik internasional mengalami kenaikan tajam.

“Kalau kewajiban tanam berjalan baik, seharusnya kita memiliki stok buffer yang cukup kuat menghadapi gejolak harga,” paparnya.

Dia pun mengemukakan Kementerian Pertanian (Kementan) serta Kementerian Perdagangan (Kemendag) harus memperbaiki tata niaga impor agar distribusi berlangsung lebih merata nasional. Ia meyakini jadwal persetujuan impor perlu diatur bertahap sehingga pasokan tidak menumpuk pada waktu tertentu maupun wilayah tertentu.

“Persetujuan impor sebaiknya diatur berkala agar stok selalu tersedia dan fluktuasi harga tidak terlalu tajam,” ujarnya.

Dirinya menambahkan pemerintah juga perlu memperbesar kewajiban tanam importir, memperluas sentra produksi, serta memberikan subsidi bagi petani bawang putih. Menurutnya, kepastian pembelian hasil panen akan meningkatkan minat petani membudidayakan bawang putih sehingga produksi nasional semakin berkembang berkelanjutan.

Prima menilai diversifikasi kebijakan perdagangan bersama penguatan produksi dalam negeri menjadi langkah penting mengurangi ketergantungan impor bawang putih nasional. Ia juga mendorong pemanfaatan transaksi menggunakan Yuan bersama Tiongkok agar dampak pelemahan rupiah terhadap biaya perdagangan dapat ditekan.

Dikabarkan sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat harga bawang putih naik di 269 kabupaten/kota atau sekitar 74,72 persen wilayah Indonesia hingga pekan kedua Juli 2026. Di sejumlah daerah, harga komoditas tersebut bahkan telah menembus Rp100 ribu per kilogram (kg).

Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti mengatakan kenaikan harga bawang putih perlu mendapat perhatian karena kini menjadi komoditas dengan penyebaran kenaikan harga paling luas dibanding komoditas pangan lainnya.

Mengutip data Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Nasional, Sabtu (18/Juli/2026) pukul 08.46 WIB, tertanggal update perubahan hingga hari sebelumnya, sejumlah harga pangan mengalami penurunan.

Bahan pangan hortikultura seperti bawang merah ukuran sedang dan bawang putih ukuran sedang turun 4,05% menjadi Rp43.800 per kg dan Rp43.750 per kg atau turun 1,8%. Harga cabai merah besar juga turun sebesar 2,87% menjadi Rp47.450 per kg. Sedangkan cabai rawit merah turun hingga 4,34% menjadi Rp57.250 per kg. Harga cabai merah keriting juga turun 4,32% menjadi Rp46.500 per kg.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....