Mentan: Harga TBS Sawit Menguat, Pelaku Permainan Harga akan Ditindak

  • 16 Jul 2026 21:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Mentan menegaskan pemerintah akan menindak tegas perusahaan yang memainkan atau menekan harga TBS sawit hingga merugikan petani
  • Pemerintah mengawal harga komoditas strategis sesuai arahan Presiden Prabowo agar manfaat kenaikan harga dunia dinikmati petani
  • Setelah penguatan pengawasan tata niaga sawit, harga TBS di tingkat petani mulai mengalami kenaikan
  • Satgas akan bertindak terhadap perusahaan yang tetap menekan harga sawit dan merugikan petani
  • Pemerintah terus membenahi tata niaga sawit untuk menjaga kesejahteraan petani dan meningkatkan daya saing ekspor nasional

RRI.CO.ID, Bener Meriah – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan pemerintah tidak akan mentoleransi praktik yang merugikan petani sawit. Perusahaan yang sengaja memainkan atau menekan harga Tandan Buah Segar (TBS) sawit dipastikan akan ditindak tegas demi melindungi kesejahteraan jutaan petani di Indonesia.

Pernyataan tersebut disampaikan Mentan saat berdialog dengan petani dan pemerintah daerah di Kabupaten Bener Meriah, Aceh, Selasa 15 Juli 2026. Menurutnya, Presiden Prabowo Subianto telah menginstruksikan agar pemerintah mengawal harga komoditas strategis sehingga petani dapat menikmati manfaat kenaikan harga di pasar dunia.

Amran menjelaskan, harga sawit dunia saat ini berada di kisaran Rp27 ribu per kilogram. Namun, harga di tingkat petani Indonesia sebelumnya sempat bertahan di kisaran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu per kilogram meski nilai tukar dolar menguat.

"Harga sawit dunia mencapai sekitar Rp27 ribu per kilogram, sementara di Indonesia sempat berada di kisaran Rp14 ribu hingga Rp15 ribu," kata Amran.

"Ketika nilai dolar menguat, yang seharusnya menikmati keuntungan adalah petani sawit, petani kopi, petani kakao, dan petani kelapa. Tapi justru harga sempat turun. Ini ada apa?" kata Amran.

Menurut Amran, kondisi tersebut langsung dilaporkan kepada Presiden Prabowo Subianto. Bahkan, ia mengaku tetap memantau perkembangan harga sawit saat berada di Tanah Suci.

"Kami ditelepon. Saya sampaikan, selesai berdoa kami langsung bekerja," kata Amran.

"Kalau ada perusahaan yang tidak menaikkan harga dan menyakiti petani, bila perlu kita tutup perusahaannya. Ini menyangkut kehidupan sekitar 15 juta petani sawit di seluruh Indonesia," ucapnya.

Amran mengatakan langkah cepat pemerintah mulai membuahkan hasil. Setelah pemerintah mengumumkan penguatan pengawasan terhadap tata niaga sawit, harga TBS di tingkat petani mulai mengalami kenaikan.

"Alhamdulillah, setelah kita umumkan langkah pemerintah, harga langsung bergerak naik dan sekarang sudah mulai pulih. Tetapi saya ingatkan, masih ada yang coba-coba menurunkan harga lagi, Satgas akan menindak tegas," katanya.

Ia menegaskan pemerintah tidak akan membiarkan praktik tata niaga yang merugikan petani terus terjadi. Menurutnya, keberhasilan pembangunan sektor pertanian dan perkebunan harus diukur dari meningkatnya kesejahteraan petani sebagai pelaku utama produksi.

"Kalau mau negara berhasil, jangan sakiti rakyat. Temani rakyat, dorong rakyat untuk berproduksi," ucapnya.

Amran menambahkan, sawit merupakan salah satu komoditas strategis nasional yang memberikan kontribusi besar terhadap devisa negara. Karena itu, pemerintah terus membenahi tata niaga sawit agar nilai tambah komoditas dapat dinikmati lebih besar oleh petani.

Ia menilai harga yang adil bagi petani akan mendorong peningkatan produksi sekaligus memperkuat daya saing industri sawit nasional di pasar global.

"Kalau seluruh potensi sawit bisa dioptimalkan dan harga petani terjaga, nilai ekspor Indonesia akan meningkat signifikan. Karena itu pemerintah akan terus hadir memastikan petani memperoleh harga yang adil," katanya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....