Bangun Karakter Manusia Sesuai Ideologi Pancasila

  • 09 Jun 2023 05:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

KBRN, Jakarta: Bangsa yang sudah benar-benar merdeka adalah bangsa yang berhasil membangun karakter manusianya. Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Yudian Wahyudi.

"Pembangunan itu bukan membangun jembatan, sarana, dan infrastruktur fisik, tetapi apapun cita-cita kita itu kan ditentukan oleh mutu dan karakter manusianya. Jadi harus kita bangun manusia Indonesia yang berkepribadian," kata Yudi, Jumat (9/6/2023).

Yudi menjelaskan salah satu pemikiran Bung Karno bahwa kemerdekaan pada masa kolonial menimbulkan soal-soal baru. Untuk itu Bung Karno juga sudah memberikan cara untuk mengatasi soal-soal baru tersebut.

"Kalau kita baca di alinea kedua UUD 1945, kemerdekaan hanya mengantarkan ke depan pintu gerbang, dan kemerdekaan sejati akan kita bangun setelahnya. Yakni dengan revolusi sosial, menjadi bangsa yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur, itu yang harus kita wujudkan, melalui pembangunan manusia," ujarnya.

Yudi juga menjelaskan dua jenis kemerdekaan. Pertama, kemerdekaan negatif yakni merdeka dari penjajahan, eksploitasi, dan diskriminasi.

"Lalu kedua adalah kemerdekaan positif yakni merdeka untuk mengolah potensi diri. Merdeka yang positif itu ketika kita sudah berhasil mengolah potensi diri sehingga menjadi versi terbaik sebagai anak negeri," ujarnya.

"Merdeka untuk mengolah potensi sumber daya alam demi kemakmuran rakyat, merdeka untuk berserikat, berkumpul. Jadi merdeka itu adalah proyek yang tidak akan pernah selesai," ucapnya.

Ia juga mengatakan untuk mencapai kemerdekaan sejati, Bung Karno juga sudah mempersiapkan metodologi dan ideologinya pada Trisakti. Di mana trisakti itu pertama, mandiri secara ekonomi. Kedua, berdaulat secara politik. Ketiga, berkepribadian di dalam kebudayaan.

"Ketiga ini harus komplementer, saling berkesinambungan satu dengan yang lain. Karena Trisakti ini juga turunan dari Pancasila yang kelima silanya saling tali-temali," katanya.

Yudi menyayangkan salah satu warisan terburuk kolonialisme. Yakni mental terjajah yang hingga saat ini masih banyak tertanam pada masyarakat Indonesia.

"Warisan terburuk kolonialisme itu bukan soal berapa banyak sumber daya yang diangkut, berapa banyak nyawa yang hilang. Tetapi yang paling parah adalah mental kolonial yang membuat bangsa ini terus-menerus mempertahankan jiwa terjajah dan tidak percaya diri," ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....