Mentan: Program B50 Perkuat Hilirisasi Sawit Nasional

  • 11 Jul 2026 07:00 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Program biodiesel B50 dinilai memperkuat hilirisasi industri sawit nasional
  • Kementan menyebut B50 dapat meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani sawit
  • Pemanfaatan sawit untuk biodiesel memperluas pasar dalam negeri
  • Pemerintah mendorong B50 sebagai langkah menuju kemandirian energi nasional
  • Produktivitas sawit diperkuat melalui budidaya, benih unggul, dan peremajaan sawit rakyat

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menilai program mandatori biodiesel B50 menjadi momentum memperkuat hilirisasi sawit nasional. Program tersebut diyakini mampu meningkatkan nilai tambah komoditas sekaligus kesejahteraan petani sawit.

Amran mengatakan, pemanfaatan minyak sawit sebagai bahan baku biodiesel akan memperluas pasar dalam negeri. Menurutnya, kebijakan tersebut juga dapat meningkatkan permintaan tandan buah segar (TBS) dari petani.

"Program B50 akan semakin memperkuat hilirisasi sawit nasional. Produksi sawit kita terus meningkat, ekspor juga tumbuh, sementara pemanfaatan di dalam negeri melalui biodiesel semakin besar," kata Amran dalam keterangannya, Jumat 10 Juli 2026.

"Artinya, nilai tambah komoditas sawit semakin tinggi dan manfaat ekonominya semakin dirasakan oleh petani," ucapnya.

Program mandatori B50 sebelumnya resmi diluncurkan Presiden Prabowo Subianto di Karawang, Jawa Barat, Kamis 9 Juli 2026. Pemerintah menilai program tersebut menjadi langkah penting memperkuat kemandirian energi nasional.

Presiden Prabowo mengatakan, Indonesia harus mampu mengelola kekayaan alam sendiri untuk kepentingan masyarakat. Ia menilai hilirisasi sumber daya alam menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan rakyat.

"Ini adalah bukti bahwa Indonesia mampu memanfaatkan kekayaan alamnya sendiri untuk kepentingan rakyatnya sendiri. Ini adalah tonggak yang sangat penting dalam perjalanan menuju kemandirian energi," kata Prabowo.

Menurut Prabowo, pembangunan harus memberikan dampak langsung kepada masyarakat, termasuk petani. Ia mengatakan peningkatan kesejahteraan petani menjadi salah satu ukuran keberhasilan pembangunan.

"Petani kita juga akan terus meningkatkan penghasilannya. Kita akan berhasil bila petani-petani kita hidupnya lebih baik," ucapnya.

Kementan mencatat, kinerja industri sawit nasional terus menunjukkan tren positif. Produksi crude palm oil (CPO) sepanjang 2025 mencapai 51,66 juta ton.

Jumlah tersebut meningkat 7,3 persen dibandingkan produksi tahun 2024 sebesar 48,16 juta ton. Sementara ekspor sawit meningkat dari 29,53 juta ton menjadi 32,34 juta ton.

Amran mengatakan, implementasi B50 akan memperkuat pasar domestik minyak sawit Indonesia. Selain itu, program tersebut juga diharapkan menjaga harga sawit di tingkat petani.

Menurutnya, Kementan akan terus meningkatkan produktivitas sawit melalui sejumlah langkah. Di antaranya perbaikan budidaya, penggunaan benih unggul, peremajaan sawit rakyat, dan penguatan hilirisasi.

"Kementerian Pertanian akan terus meningkatkan produktivitas sawit melalui perbaikan budidaya, penggunaan benih unggul, peremajaan sawit rakyat, serta penguatan hilirisasi," kata Amran.

Ia menegaskan, Indonesia tidak hanya harus menjadi produsen sawit terbesar dunia. Namun juga mampu menghadirkan nilai tambah yang lebih besar bagi petani dan perekonomian nasional.

Kementan menilai program B50 menjadi bagian dari penguatan swasembada energi berbasis sektor pertanian. Program tersebut diharapkan mampu menjaga ketahanan energi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....