Kementan Salurkan Delapan Pompa Atasi Kekeringan di Subang

  • 11 Jul 2026 06:40 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kementan menyiapkan pompa air untuk mengatasi ancaman kekeringan lahan pertanian Subang
  • Pompanisasi dilakukan untuk menjaga musim tanam dan produksi pangan petani
  • Pemerintah mempercepat mitigasi dampak kemarau melalui dukungan irigasi pertanian
  • Bantuan delapan unit pompa disiapkan untuk wilayah terdampak kekeringan
  • Kementan memperkuat sinergi pusat dan daerah menjaga ketahanan pangan nasional

RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan delapan unit pompa air untuk mengatasi ancaman kekeringan lahan pertanian di Kabupaten Subang, Jawa Barat. Bantuan tersebut diberikan agar petani tetap bisa mendapatkan pasokan air pada musim kemarau.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan, pemerintah harus bergerak cepat sebelum dampak kekeringan semakin meluas. Menurutnya, pompanisasi menjadi salah satu strategi menjaga musim tanam dan produksi pangan nasional.

"Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam," kata Amran dalam keterangannya, Rabu 9 Juli 2026.

Amran mengatakan, pemerintah tidak ingin menunggu krisis terjadi untuk melakukan penanganan. Karena itu, berbagai langkah mitigasi dilakukan mulai dari penyediaan pompa, optimalisasi sumber air, hingga penguatan infrastruktur pertanian.

Kementan mencatat sebanyak 80.158 unit pompa air telah disalurkan kepada petani di seluruh Indonesia sepanjang 2023 hingga 2025. Sementara pada 2026, pemerintah menargetkan penyaluran tambahan sebanyak 11.000 unit pompa air.

Sebagai tindak lanjut, Kementan melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) bersama Pemerintah Kabupaten Subang turun langsung melakukan pengecekan lapangan. Identifikasi dilakukan di Desa Manyingsal, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang.

Hasil pengecekan menunjukkan sejumlah desa di Kecamatan Cipunagara membutuhkan dukungan irigasi perpompaan. Bantuan tersebut diperlukan untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi yang sedang memasuki fase pertumbuhan.

Kepala Balai Pengelolaan Lahan dan Irigasi Pertanian (BPLIP) Wilayah I Bandung, Hamid Sangadji mengatakan, pemerintah langsung merespons laporan ancaman kekeringan dari masyarakat. Menurutnya, penanganan cepat diperlukan agar tanaman petani dapat terselamatkan.

"Kami menindaklanjuti informasi mengenai dampak kekeringan ini dengan melakukan respons cepat bersama Dinas Pertanian dan penyuluh wilayah Kabupaten Subang. Kami melihat langsung kondisi riil di lapangan," kata Hamid.

"Terhadap tiga hingga empat desa yang kami kunjungi di dua kecamatan, akan diupayakan bantuan sebanyak delapan unit irigasi perpompaan. Pelaksanaannya dimulai secara bertahap mulai besok dan dilanjutkan pada minggu-minggu berikutnya," ucapnya.

Hamid mengatakan, pemerintah terus memetakan daerah yang mengalami maupun berpotensi terdampak kekeringan hingga puncak musim kemarau. Hal itu dilakukan agar bantuan dapat segera diberikan sesuai kebutuhan di lapangan.

"Kami berkomitmen memitigasi dampak kekeringan tidak hanya di Kabupaten Subang. Tetapi juga di seluruh daerah yang teridentifikasi mengalami maupun berpotensi terdampak kekeringan hingga Agustus mendatang," ucapnya.

Sementara itu, Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Manyingsal, Taryo, mengatakan kondisi kekeringan tahun ini cukup berat bagi petani. Sekitar 25 hektare lahan sawah di wilayahnya membutuhkan tambahan pasokan air.

"Tahun ini kemaraunya sangat parah, bahkan menjadi yang terberat sejak 2008 dan 2009. Saat ini usia tanaman padi sekitar 45 hingga 55 hari sehingga sangat membutuhkan pasokan air," ucap Taryo.

Taryo mengapresiasi langkah pemerintah yang turun langsung membantu petani menghadapi kekeringan. Ia berharap bantuan pompa dan pengeboran sumber air dapat segera menyelamatkan tanaman padi.

"Kami mewakili petani Desa Manyingsal mengucapkan terima kasih kepada pemerintah yang telah sigap turun tangan. Mudah-mudahan masalah kekeringan bisa segera diatasi," katanya.

Perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Subang, Hamdani mengatakan, irigasi perpompaan menjadi solusi untuk wilayah yang tidak memiliki sumber air permukaan. Salah satunya Desa Manyingsal yang selama ini bergantung pada sumber air tanah.

"Khusus di Desa Manyingsal memang tidak ada sumber air permukaan sehingga harus mengandalkan sumur pantek atau jaringan irigasi air tanah dalam. Melalui koordinasi dengan Kementerian Pertanian, kami sepakat menghadirkan solusi irigasi perpompaan," ucap Hamdani.

Ia menjelaskan, pemerintah akan melakukan survei geolistrik untuk menentukan titik sumber air sebelum proses pengeboran dilakukan. Langkah tersebut diharapkan menjadi solusi jangka panjang menghadapi kekeringan.

"Target utama kami adalah menyelamatkan sawah petani agar tetap dapat berproduksi pada musim kemarau. Ke depan, keberadaan irigasi perpompaan ini diharapkan mampu menjamin ketersediaan air," katanya.

Kementan memastikan upaya mitigasi kekeringan akan terus dilakukan di berbagai daerah. Sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, penyuluh, dan petani diperkuat untuk menjaga produksi pangan serta mendukung target swasembada pangan nasional.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....