HKTI Inisiasi Rembug Peternak Perkuat Perunggasan Nasional
- 07 Jul 2026 03:25 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- HKTI menginisiasi Rembug Peternak untuk mencari solusi persoalan perunggasan nasional
- Forum mempertemukan pemerintah, asosiasi peternak, dan pelaku usaha ayam serta telur
- HKTI mendorong keseimbangan harga agar peternak untung dan konsumen tetap terlindungi
- Harga ayam hidup ditargetkan mencapai Rp19.500 per kilogram mulai 15 Juli 2026
- Penguatan perunggasan dilakukan melalui efisiensi produksi, MBG, dan perluasan ekspor
RRI.CO.ID, Jakarta - Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) menginisiasi Rembug Peternak untuk mencari solusi persoalan sektor perunggasan nasional. Forum tersebut mempertemukan pemerintah, asosiasi peternak, hingga pelaku usaha ayam dan telur.
Wakil Menteri Pertanian sekaligus Ketua Umum HKTI Sudaryono mengatakan, perbaikan sektor perunggasan membutuhkan kolaborasi seluruh pihak. Menurutnya, ekosistem usaha harus memberikan keseimbangan antara kesejahteraan peternak dan perlindungan konsumen.
"Peternaknya harus untung, kemudian konsumennya juga tidak boleh dirugikan. Ayam dan telur itu tidak bisa terlalu mahal, tapi juga tidak boleh terlalu murah," ujar Sudaryono di Jakarta, Senin 6 Juli 2026.
Sudaryono mengatakan, Rembug Peternak menjadi ruang bersama untuk membahas berbagai persoalan yang dihadapi peternak. Mulai dari harga ayam dan telur, kebutuhan pakan, distribusi, hingga efisiensi rantai pasok.
Ia menegaskan, pelaku usaha sektor perunggasan harus tetap mendapatkan keuntungan secara wajar. Namun keuntungan tersebut tidak boleh diperoleh dengan mengorbankan peternak maupun masyarakat sebagai konsumen.
Sebagai salah satu hasil pembahasan, disepakati upaya menjaga harga ayam hidup atau live bird di tingkat peternak. Harga ayam hidup didorong berada di angka Rp19.500 per kilogram mulai 15 Juli 2026.
Sementara itu, harga telur ayam di tingkat peternak didorong berada pada kisaran Rp24.000 per kilogram. Kesepakatan tersebut diharapkan dapat menjaga keberlanjutan usaha para peternak.
Sudaryono mengatakan, pemerintah bersama seluruh pemangku kepentingan juga terus mencari solusi jangka panjang sektor perunggasan. Salah satunya memastikan efisiensi dari sisi produksi hingga distribusi.
"Bagaimana sektor peternakan ini efisien, dari produksinya dan distribusinya. Sehingga gap antara HPP dan harga akhirnya jangan terlalu besar," katanya.
Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Agung Suganda mengatakan, perubahan harga dipengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan. Ketika pasokan meningkat tetapi permintaan turun, harga di tingkat peternak ikut mengalami tekanan.
"Pada saat suplai melimpah, demand turun, tentu harganya ikut turun. Ini yang terus kita lakukan upaya pendek, menengah, maupun panjang," ucap Agung.
Menurutnya, harga di tingkat peternak perlu dijaga agar tidak berada di bawah Harga Pokok Produksi (HPP). Sebab kondisi tersebut dapat mengganggu keberlanjutan usaha dan produksi peternakan nasional.
Agung mengatakan, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi peluang besar bagi sektor perunggasan nasional. Program tersebut menciptakan pasar baru karena membutuhkan pasokan ayam dan telur dalam jumlah besar.
"MBG ini emerging market, satu pasar yang besar. Salah satunya men-trigger kebutuhan telur dan ayam," ucapnya.
Namun, ia menyebut peternak juga perlu beradaptasi terhadap pola permintaan baru tersebut. Salah satunya menyesuaikan produksi dengan kalender pendidikan karena kebutuhan MBG dapat berubah ketika masa libur sekolah.
Selain penguatan pasar dalam negeri, sektor perunggasan nasional juga diarahkan memperluas pasar ekspor. Sudaryono menyebut Indonesia saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan ayam dan telur dalam negeri.
Menurutnya, pemerintah bersama pelaku usaha terus menjajaki sejumlah pasar potensial. Di antaranya negara Timur Tengah untuk kebutuhan konsumsi serta China untuk produk unggas tertentu.
HKTI memastikan forum serupa akan terus dilakukan untuk mengevaluasi persoalan sektor perunggasan. Langkah tersebut menjadi bagian memperkuat keberlanjutan usaha dan kesejahteraan peternak nasional.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....