Menbud Fadli Usulkan Museum Pos Indonesia Jadi Cagar Budaya Nasional
- 04 Jul 2026 20:14 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Menbud Fadli mengusulkan Museum Pos Indonesia ditetapkan sebagai cagar budaya nasional karena nilai sejarahnya yang tinggi.
- Kementerian Kebudayaan mendorong pelestarian budaya literasi melalui tradisi menulis surat, filateli, dan pemanfaatan koleksi bersejarah sebagai media edukasi.
- PT Pos Indonesia berkomitmen mengembangkan Museum Pos Indonesia sebagai ruang edukasi publik melalui kolaborasi dan program pelestarian sejarah.
RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud), Fadli Zon mendorong keberadaan Museum Pos Indonesia layak ditingkatkan statusnya menjadi cagar budaya nasional. Museum Pos Indonesia memiliki nilai sejarah yang sangat penting karena telah berdiri lebih dari satu abad.
Hal itu disampaikannya saat melakukan peninjauan Museum Pos Indonesia, Bandung, Jawa Barat, Jumat, 3 Juli 2026. Peninjauan ini dilakukan sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian warisan budaya penguatan fungsi museum sebagai ruang edukasi publik.
"Saya kira ini sangat pantas menjadi cagar budaya nasional. Bangunan ini usianya sudah lebih dari 100 tahun dan menjadi bagian penting dari sejarah bangsa," ujarnya dalam keterangan pers yang diterima RRI, Sabtu, 4 Juli 2026.
Ia juga mengusulkan agar penataan Museum Pos Indonesia terus ditingkatkan. Sehingga koleksi-koleksi bersejarah dapat dipamerkan secara lebih representatif dan mudah dinikmati masyarakat.
Ia juga menyoroti perlengkapan pengiriman dari berbagai era, seperti peralatan pos, prangko, dan surat. Menurutnya perlengkapan itu merupakan bagian dari perjalanan sejarah Indonesia yang perlu dikenalkan kepada generasi muda.
Lebih lanjut, ia mengingatkan bahwa peran Pos Indonesia tak hanya sebagai penyedia layanan komunikasi. Tetapi juga menjadi saksi perjalanan bangsa sejak masa perjuangan kemerdekaan.
Sementara itu, ia juga mengajak Pos Indonesia untuk kembali membudayakan tradisi menulis surat, khususnya di kalangan pelajar. Menulis surat dengan tulisan tangan, jelasnya, mampu membangun ekspresi, kreativitas, serta kedekatan emosional yang tidak tergantikan oleh teknologi digital.
Ia mencontohkan keberhasilan lomba menulis surat kepada pahlawan yang diselenggarakan Kementerian Kebudayaan tahun lalu. Dalam waktu satu bulan, kegiatan tersebut berhasil menghimpun sekitar 34.000 surat dari siswa SD, SMP, SMA hingga mahasiswa.
Seluruh surat ditulis di atas kertas, dimasukkan ke dalam amplop, ditempeli prangko, kemudian dikirim melalui layanan Pos Indonesia. Bahkan, jumlah surat yang diterima mencapai sekitar 20 kontainer plastik.
Sementara itu, Direktur Komersial PT Pos Indonesia (Persero), Fahdel Akbar mengapresiasi atensi Kementerian Kebudayaan terhadap Museum Pos Indonesia. Pos Indonesia, katanya, berkomitmen menjaga dan melestarikan warisan sejarah perusahaan sebagai bagian dari sejarah perjalanan bangsa.
"Pos Indonesia menyambut baik dukungan Kementerian Kebudayaan dalam upaya pelestarian Museum Pos Indonesia. Kami berkomitmen untuk terus merawat, mengembangkan, dan menghadirkan museum ini sebagai ruang edukasi yang menarik bagi masyarakat," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa Pos Indonesia juga akan terus berkolaborasi dengan berbagai pihak untuk menghadirkan program-program edukatif. Terutama yang mampu menghidupkan kembali budaya literasi, aktivitas berkirim surat, filateli, serta pemanfaatan aset-aset bersejarah sebagai media pembelajaran.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....