Banjir Sumut Jadi Alarm, YSSC Desak Aksi Nyata Pulihkan Hutan
- 01 Jul 2026 17:55 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Ketua Yayasan Sihatihat Sanjaya Center, Hari S. Siregar, mengatakan saat ini telah terjadi berkurangnya tutupan hutan di wilayah tersebut
- YSSC telah melakukan penanaman pohon
RRI.CO.ID, Jakarta – Banjir yang melanda sejumlah wilayah di Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatera Utara, dinilai menjadi peringatan serius dampak kerusakan lingkungan. Kondisi tersebut mendorong Yayasan Sihatihat Sanjaya Center (YSSC) mengajak seluruh pemangku kepentingan memperkuat gerakan rehabilitasi hutan.
Selain itu juga melakukan penanaman pohon sebagai upaya menekan emisi karbon sekaligus mengurangi risiko bencana hidrometeorologi. Ketua Yayasan Sihatihat Sanjaya Center, Hari S. Siregar, mengatakan saat ini telah terjadi berkurangnya tutupan hutan di wilayah tersebut.
Seperti alih fungsi lahan yang tidak terkendali, serta perubahan iklim telah memperbesar potensi banjir dan longsor. Hingga krisis sumber daya air di berbagai daerah.
“Bencana yang terjadi di Tapanuli Tengah menjadi pengingat bahwa menjaga kelestarian lingkungan bukan lagi pilihan, tetapi kebutuhan mendesak. Penanaman pohon merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan bersama untuk memulihkan fungsi ekologis kawasan,” ujar Hari dalam keterangannya, Rabu, 1 Juli 2026.
Melalui program Spirit Green, YSSC mengajak pemerintah, dunia usaha, akademisi, organisasi kemasyarakatan, dan generasi muda memperluas gerakan penghijauan. Khususnya di kawasan yang mengalami degradasi lingkungan.
Menurut Hari, rehabilitasi hutan dan penanaman pohon memiliki manfaat ganda. Selain meningkatkan daya serap air, mengurangi risiko banjir dan erosi, serta menjaga keberlanjutan sumber mata air.
“Semakin banyak pohon yang ditanam, semakin besar kemampuan lingkungan menyerap karbon. Ini merupakan kontribusi nyata dalam mendukung target pengendalian perubahan iklim sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih sehat bagi masyarakat,” katanya.
Ia menilai penyelesaian persoalan lingkungan tidak dapat dilakukan secara parsial. Dibutuhkan kolaborasi lintas sektor agar gerakan penghijauan berjalan secara berkelanjutan dan memberikan dampak nyata bagi pemulihan ekosistem.
Sebagai bentuk komitmen tersebut, YSSC telah melakukan penanaman pohon di Desa Lae Monong, Manduamas, Kabupaten Tapanuli Tengah. Program itu menjadi bagian dari upaya yayasan dalam mendorong rehabilitasi lingkungan sekaligus meningkatkan kesadaran pentingnya pelestarian hutan.
Diketahui, Pemerintah terus mempercepat rehabilitasi lahan kritis sebagai langkah menghadapi degradasi lahan dan perubahan iklim. Serta adanya ancaman kekeringan yang diperkirakan meningkat pada 2026.
Hal tersebut dikatakan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki saat memperingati Peringatan Hari Penanggulangan Degradasi Lahan dan Kekeringan 2026. Acara tersebut diselenggarakan di Gedung Manggala Wanabakti Kementerian Kehutanan, Jakarta.
“Berdasarkan data tahun 2024, Indonesia masih memiliki sekitar 12,3 juta hektare lahan kritis. Karena itu rehabilitasi lahan menjadi salah satu prioritas yang harus terus dipercepat melalui kolaborasi semua pihak,” ujar Rohmat.
Menurut Rohmat, pemerintah memprioritaskan rehabilitasi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan pengelolaan lahan berkelanjutan. Serta menjaga tutupan hutan melalui sinergi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, hingga masyarakat.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....