Kementerian Ekraf Buka Peluang AI Masuk Kurikulum SMA/SMK
- 28 Jun 2026 06:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Ekraf membuka peluang AI masuk kurikulum SMA dan SMK.
- Pelatihan AI dinilai perlu berfokus pada pemahaman dasar, bukan sekadar penggunaan aplikasi.
- Penguasaan AI diharapkan menyiapkan generasi muda menghadapi kebutuhan industri.
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Ekonomi Kreatif (Ekraf) membuka peluang kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) masuk dalam kurikulum sekolah. Langkah tersebut dinilai penting untuk menyiapkan sumber daya manusia menghadapi perkembangan teknologi.
Deputi Bidang Kreativitas Digital dan Teknologi Kementerian Ekraf, Muhammad Neil El Himam, mengatakan peluang tersebut masih akan dibahas lebih lanjut. Menurutnya, penerapan AI dapat dimulai di SMA atau SMK yang relevan.
"Saya berharap mungkin lebih tepatnya nanti kita atur ke SMK-nya, atau SMA yang khusus memang terkait dengan AI. Saya rasa itu ide yang menarik juga ya bahwa untuk menyiapkan itu semua," ujarnya dalam kegiatan Workshop Badan Ekraf Digital Talent (BDT) 2026 di Jakarta, Sabtu, 27 Juni 2026.
Neil mengatakan wacana tersebut sejalan dengan perkembangan teknologi. Ia menilai AI berpotensi menjadi keterampilan dasar di masa depan.
"Harapannya waktu di awal-awal programming ini mulai masuk. Kita bermimpi coding itu juga masuk ke dalam kurikulum, tapi sampai sekarang mungkin hanya masuk ke kurikulum ICT ya," katanya.
Neil menambahkan, antusiasme masyarakat yang mengikuti pelatihan AI yang digelar Kementerian Ekraf melampaui target. Jumlah pendaftar dan peserta yang lulus tercatat melebihi sasaran awal.
Ia mengatakan, pelatihan tersebut merupakan bagian dari program Badan Ekraf Digital Talent (BDT). Program tersebut mengusung tema Productivity with AI.
"Ini sudah dilaksanakan sekitar 2 bulan, dan ini targetnya tadinya pesertanya 2.000, tapi yang daftar 5.000 lebih. Dan target lulusannya juga 800, ternyata yang lulus juga lebih dari 2.000 juga," ujarnya.
COO Dicoding, Kevin Kurniawan, mengatakan pelatihan AI tidak hanya mengajarkan penggunaan aplikasi. Peserta juga dibekali pemahaman mengenai cara kerja AI.
"Kalau kurikulum sendiri sebenarnya kita nggak langsung specific tools-nya, tapi ke fundamental. Jadi yang diajarkan itu bagaimana cara pikir kita untuk menggunakan AI menjadi produk," ujarnya.
Kevin mengatakan peserta juga belajar menyusun prompt yang efektif. Menurutnya, kualitas instruksi akan menentukan hasil yang diberikan AI.
"Dengan tahu cara AI itu bekerja, sehingga kita bisa memberi instruksi yang pas untuk membuat sebuah produk. Karena kalau instruksinya nggak pas, produk jadinya pun nggak sesuai dengan apa yang ingin kita buat," ucapnya.
Kementerian Ekraf berharap semakin banyak generasi muda memahami AI sejak dini. Bekal tersebut diharapkan meningkatkan kesiapan mereka menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berkembang.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....