Presiden Prabowo Ingatkan Jangan Bikin Gaduh Setiap Kalah Pemilu

  • 27 Jun 2026 14:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • 1. Presiden Prabowo Subianto pernah mengalami kekalahan dalam pemilu sebanyak empat kali
  • 2. Presiden Prabowo tidak pernah menganggu pemerintah saat kalah dalam pemilu
  • 3. Menghargai hasil pemilu adalah bagian menghormati kedaulatan rakyat

RRI.CO.ID, Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menegaskan tidak pernah mengganggu pemimpin yang menang dalam pemilihan umum (Pemilu) kendati ia empat kali kalah dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden. Presiden Prabowo tidak menganggu pemerintahan karena, kedaulatan ada ditangan di tangan rakyat yang wujudnya adalah demokrasi.

“Lima kali minta mandat, empat kali saya kalah, tapi saya tidak mengganggu pemimpin yang dapat mandat. Kedaulatan rakyat wujudnya adalah demokrasi, demokrasi wujudnya adalah pemilihan,” kata Presiden Prabowo Subianto dalam sambutannya pada acara Sarasehan Kebangsaan Konvensi Sains Teknologi dan Industri Indonesia di Hall B, JCC, Jakarta, Jumat, 26 Juni 2026.

Presiden Prabowo mengatakan rakyat Indonesia sudah sepakat bahwa Indonesia adalah negara demokrasi. Sistem kenegaraan yang mengakui bahwa kedaulatan ada ditangan rakyat dan rakyatlah yang berkuasa.

Presiden Prabowo memahami ada ketidakpuasan jika lawan memenangkan pesta demokrasi. Namun kekalahan dalam pemilihan tidak boleh disikapi dengan kegaduhan karena akan menghambat kemajuan bangsa.

“Kita mungkin tidak puas, tapi alternatifnya apa? Apa kita mau gaduh? Habis tiap pemilihan gaduh, tiap pemilihan gaduh, yang kalah ribut. Kapan kita mau menuju kesejahteraan untuk rakyat kita?Bukankah itu segala kepinteran kita harus kita abdikan untuk rakyat kita yang paling miskin dan paling lemah?,” katanya.

Presiden Prabowo menegaskan keributan, gaduh, sikap anarkis dan menebarkan kebencian bukan merupakan tindakan yang produktif. Padahal negara lain, bekerja keras menuju kesejahteraan rakyat.

“Kalau ada yang berpendapat bahwa gaduh ribut, bakar-bakar, anarki, kebencian permusuhan, maki-memaki itu produktif. Sementara negara lain menuju kesejahteraan, menuju terobosan, menuju kekayaan,” ujarnya.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....