Mendukbangga Sebut 25 Persen Anak Indonesia Kehilangan Peran Ayah

  • 27 Jun 2026 07:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Sebanyak 25 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah atau fatherless dan memiliki masalah mental.
  • Mayoritas anak-anak Indonesia lebih sering menggunakan ponsel 8 hingga 10 jam setiap harinya.

RRI.CO.ID, Jakarta- Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Mendukbangga)/Kepala BKKBN Wihaji menyebut 25 persen anak Indonesia kehilangan peran ayah (fatherless). Serta memiliki masalah mental.

Selain kehilangan peran ayah, mayoritas anak dalam keseharian lebih sering memegang handphone. Dari hasil penelitian yang didapatnya, satu orang anak Indonesia dalam sehari bisa memegang handphone 8 sampai 10 jam.

Oleh karena itu, Kemendukbangga terus menggaungkan Gerakan Ayah Ambil Rapor (Gemar) ke sekolah. Sebagai upaya meningkatkan peran ayah serta kehadiran ayah bagi anak-anaknya.

"Kita ada Program Gemar, mengapa program ini ada? Karena berdasarkan data, rata-rata anak kita 25 persen itu fatherless. Dan memiliki masalah mental, tetapi rata-rata mereka bisa memegang handphone setiap hari 8,7 sampai 10 jam," katanya, dalam keteranganya, Jumat, 26 Juni 2026.

Ia mengingatkan, agar jangan sampai anak-anak Indonesia justru diasuh oleh handphone. Karena faktanya saat ini sebagian aktivitas anak dikendalikan oleh ponsel termasuk bertanya kepada Akal Imitasi (AI).

"Hari ini algoritma otak kita hampir 60-70 persen dipengaruhi oleh teknologi. Algoritmanya yang ada dalam otak kita, kalau tidak hati-hati, orang tua mereka sekarang bukan kita, tetapi handphone," katanya.

Wihaji juga meminta, agar di pagi hari para ayah selalu mengusahakan untuk mengantarkan anaknya pergi ke sekolah. Serta berinteraksi minimal 30 hingga satu jam.

"Ini yang penting bagaimana orang tua hadir. 1-2 jam saja, sempatkan. Saya sampai sekarang masih mengantarkan anak ke sekolah, nyetir sendiri karena minimal setengah jam sampai satu jam bisa ngobrol," katanya.

Ia juga menegaskan pentingnya ayah tidak hanya hadir secara ekonomi, tetapi juga secara psikologis untuk anak. Termasuk dengan mendengarkan curahan hati (curhat) mereka dengan meluangkan waktu sedikitnya satu jam.

"Kalau dulu curhat sama orang tua, sekarang curhatnya ke AI. Tanya apa saja, belajar berjudi ada di situ, dan dijawab padahal AI tidak punya rasa," ujarnya, mengakhiri pembicaraan.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....