Kongres Kawan Alam Indonesia, Kolaborasi Lingkungan-Pembangunan Berkelanjutan

  • 25 Jun 2026 22:11 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Denpasar - Kawan Alam Indonesia (KAI) sukses menyelenggarakan Kongres Ke-I yang menjadi tonggak sejarah penting dalam perjalanan organisasi sebagai gerakan masyarakat yang berkomitmen menjaga harmoni antara alam, budaya, dan manusia. Kongres yang berlangsung di Denpasar, Bali, tersebut menjadi momentum konsolidasi organisasi sekaligus penegasan arah perjuangan Kawan Alam Indonesia dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendekatan kolaboratif lintas sektor.

Kongres dihadiri oleh unsur pemerintah, akademisi, dunia usaha, media, organisasi masyarakat sipil, komunitas lingkungan, tokoh masyarakat, relawan, serta anggota Kawan Alam Indonesia dari berbagai daerah. Dalam forum tersebut ditetapkan Program Kerja Kawan Alam Indonesia Periode 2026–2031 serta berbagai rekomendasi strategis yang akan menjadi dasar gerakan organisasi dalam memperkuat konservasi lingkungan, pemberdayaan masyarakat, dan pelestarian budaya.

Pendiri sekaligus Ketua Umum Kawan Alam Indonesia, Henny Paula Sitohang, S.S., menyampaikan bahwa Kongres Ke-I merupakan wujud nyata semangat kolaborasi yang sejak awal menjadi fondasi berdirinya organisasi.

Menurut Henny, Kawan Alam Indonesia lahir dari keyakinan bahwa menjaga lingkungan hidup bukanlah tanggung jawab satu kelompok, satu profesi, atau satu generasi semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.

"Kawan Alam Indonesia hadir sebagai rumah bersama bagi siapa saja yang memiliki kepedulian terhadap pelestarian lingkungan dan masa depan Indonesia. Kami percaya bahwa ketika banyak tangan bergandengan, maka perubahan besar akan menjadi mungkin. Menjaga alam bukan sekadar program, melainkan cara hidup yang harus menjadi bagian dari budaya masyarakat Indonesia," ujar Henny dalam pidato pembukaan Kongres Ke-I.

Dalam sambutannya, Henny juga menyoroti pengalaman hidupnya selama lebih dari tiga tahun di Bali yang memberinya banyak pelajaran tentang pentingnya harmoni antara manusia, budaya, dan alam. Ia mengaku terinspirasi oleh filosofi Tri Hita Karana yang menjadi landasan kehidupan masyarakat Bali.

"Saya belajar bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari alam, budaya, dan spiritualitas. Filosofi Tri Hita Karana mengajarkan bahwa kesejahteraan lahir dari keseimbangan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam. Nilai-nilai inilah yang semakin menguatkan keyakinan saya bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan harus berjalan beriringan dalam semangat harmoni dan keberlanjutan," kata Henny.

Lebih lanjut, Henny menegaskan bahwa keberlanjutan hanya dapat diwujudkan melalui kerja sama seluruh pihak.

"Keberlanjutan tidak dapat dibangun oleh satu individu, satu organisasi, ataupun satu sektor saja. Kolaborasi adalah kunci. Kolaborasi membutuhkan kepercayaan, kesediaan untuk mendengar, dan kerendahan hati untuk berjalan bersama meskipun memiliki latar belakang dan cara pandang yang berbeda," ia menegaskan.

Kongres Ke-I juga menjadi momentum bagi Kawan Alam Indonesia untuk memperkuat peran perempuan dalam kepemimpinan lingkungan dan konservasi. Henny menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam menjaga keberlanjutan sumber daya alam, pendidikan generasi muda, serta ketahanan sosial masyarakat.

"Kawan Alam Indonesia ingin menjadi rumah yang mendukung lahirnya lebih banyak perempuan pemimpin lingkungan. Perempuan tidak boleh hanya menjadi objek pembangunan, tetapi harus menjadi penggerak perubahan dan bagian penting dalam pengambilan keputusan terkait masa depan lingkungan Indonesia," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Dewan Pembina Kawan Alam Indonesia sekaligus Anggota Komite I DPD RI Perwakilan Provinsi Bali, Dr. Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna Mahendradatta Wedasteraputra Suyasa III, S.E., M.Tru., M.Si., menyampaikan apresiasi atas suksesnya penyelenggaraan Kongres Ke-I Kawan Alam Indonesia.

Menurut Arya Wedakarna, kehadiran Kawan Alam Indonesia menunjukkan semakin kuatnya partisipasi masyarakat dalam mendukung pembangunan berkelanjutan yang berpijak pada keseimbangan antara kemajuan ekonomi, pelestarian budaya, dan perlindungan lingkungan hidup.

"Kita membutuhkan gerakan masyarakat yang mampu menjembatani kepentingan pembangunan dengan kelestarian lingkungan. Bali telah memberikan contoh bagaimana budaya, alam, dan kehidupan masyarakat dapat berjalan dalam harmoni. Kawan Alam Indonesia memiliki potensi besar untuk memperkuat nilai-nilai tersebut dan mengembangkannya menjadi gerakan nasional yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan," ujar Arya Wedakarna.

Ia juga menegaskan pentingnya memperkuat kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia usaha, akademisi, dan komunitas lingkungan dalam menjawab berbagai tantangan pembangunan berkelanjutan di masa depan.

"Pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang tidak meninggalkan alam dan budaya. Karena itu, sinergi seluruh pemangku kepentingan harus terus diperkuat agar keberlanjutan menjadi fondasi utama dalam setiap kebijakan dan program pembangunan," ia menambahkan.

Melalui Kongres Ke-I ini, Kawan Alam Indonesia menegaskan komitmennya untuk menjadi gerakan masyarakat yang unggul dalam menjaga harmoni antara alam, budaya, dan manusia demi mewujudkan Indonesia yang lestari, tangguh, dan berkelanjutan.

Kongres ditutup dengan deklarasi bersama seluruh peserta untuk memperkuat kolaborasi, memperluas gerakan konservasi, serta meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan hidup sebagai warisan berharga bagi generasi mendatang.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....