Literasi Digital Perlu Jadi Benteng Akal Sehat Masyarakat
- 25 Jun 2026 00:50 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Azis Subekti, menilai literasi digital perlu menjadi benteng akal sehat masyarakat di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital
- Ia menjelaskan, ruang digital kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat
- Menurut Azis, transformasi digital Indonesia harus diarahkan untuk memperkuat kemandirian bangsa sekaligus melindungi masyarakat dari berbagai risiko di ruang digital
RRI.CO.ID, Jakarta - Pendiri Serikat Masyarakat Produktif Indonesia, Azis Subekti, menilai literasi digital perlu menjadi benteng akal sehat masyarakat di tengah derasnya arus informasi dan perkembangan teknologi digital. Menurut Azis, transformasi digital Indonesia harus diarahkan untuk memperkuat kemandirian bangsa sekaligus melindungi masyarakat dari berbagai risiko di ruang digital.
"Literasi digital harus naik kelas menjadi kemampuan masyarakat untuk memilah informasi, memahami risiko algoritma. Dan tidak mudah digiring oleh arus digital," kata Azis, Kamis, 25 Juni 2026.
Ia menjelaskan, ruang digital kini telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Mulai dari pendidikan, ekonomi, layanan publik, komunikasi, hingga pembentukan opini publik.
Meski membawa banyak manfaat, menurut Azis, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan berupa disinformasi, manipulasi emosi, propaganda digital, operasi pengaruh. Serta algoritma yang dapat memengaruhi perhatian masyarakat.
Azis mengatakan ruang pembentukan kesadaran publik kini tidak hanya berada di keluarga, sekolah, kampus, pesantren, maupun media massa. Tetapi juga pada berbagai platform digital dan sistem rekomendasi yang menentukan informasi yang diterima masyarakat setiap hari.
Karena itu, ia menilai penguatan literasi digital harus menjadi agenda bersama. Ini yang melibatkan pemerintah, dunia pendidikan, media, komunitas teknologi, masyarakat sipil, hingga keluarga.
Selain itu, Azis menegaskan bahwa kedaulatan digital bukan berarti menutup diri dari perkembangan global. Indonesia, menurutnya, tetap perlu terbuka terhadap inovasi, investasi, dan kemajuan teknologi dengan tetap menjaga kepentingan nasional.
"Keterbukaan adalah kekuatan jika disertai kemampuan mengatur diri. Tetapi keterbukaan dapat menjadi kerentanan jika semua pintu dibuka tanpa arsitektur perlindungan," ujarnya.
Ia menambahkan, agenda kedaulatan digital Indonesia perlu dibangun melalui tiga fondasi, yakni penguatan infrastruktur digital, pengembangan ekonomi dan teknologi digital. Serta peningkatan kesadaran masyarakat melalui literasi digital, etika algoritma, penguatan media, dan pendidikan kritis.
Menurut Azis, ketiga fondasi tersebut harus berjalan secara bersamaan agar transformasi digital tidak hanya menghasilkan kemajuan teknologi. Tetapi juga masyarakat yang tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan di ruang digital.
"Transformasi digital harus memastikan teknologi melayani manusia. Bukan manusia menjadi bahan mentah bagi teknologi," katanya.
Azis berharap agenda digital dapat menjadi bagian dari upaya memperkuat kemandirian Indonesia dengan membangun masyarakat yang cakap teknologi. Lalu kuat secara ekonomi, dan tangguh dalam berpikir.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....