Bapanas Genjot SPHP dan Gerakan Pangan Murah
- 25 Jun 2026 06:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Bapanas mempercepat penyaluran beras SPHP untuk menjaga stabilitas harga pangan
- Target penyaluran SPHP tahun 2026 sebesar 828 ribu ton
- Realisasi penyaluran SPHP hingga 20 Juni 2026 mencapai 359 ribu ton
- Beras SPHP disalurkan melalui pasar tradisional, pasar modern, kios pangan, dan Gerakan Pangan Murah
- Gerakan Pangan Murah telah digelar 5.462 kali pada Januari–Juni 2026
RRI.CO.ID, Jakarta - Badan Pangan Nasional (Bapanas) mempercepat penyaluran beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP). Langkah itu dilakukan untuk menjaga keterjangkauan harga pangan di tengah fluktuasi sejumlah komoditas.
Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis mengatakan SPHP menjadi instrumen penting pengendalian harga beras. Program tersebut menyasar konsumen melalui berbagai jalur distribusi.
"Target penyaluran beras SPHP tahun 2026 sebesar 828 ribu ton. Hingga 20 Juni realisasinya mencapai 359 ribu ton," kata Nita dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Daerah di Kemendagri, Senin 22 Juni 2026.
Menurutnya, beras SPHP disalurkan melalui pasar tradisional dan pasar modern. Penyaluran juga dilakukan melalui kios pangan dan Gerakan Pangan Murah.
Selain SPHP, pemerintah terus memperluas pelaksanaan Gerakan Pangan Murah atau GPM. Program itu bertujuan memperkuat akses masyarakat terhadap pangan dengan harga terjangkau.
Bapanas mencatat GPM telah digelar 5.462 kali sepanjang Januari hingga Juni 2026. Kegiatan tersebut berlangsung di 38 provinsi dan 378 kabupaten atau kota.
Khusus selama Juni 2026, GPM telah dilaksanakan sebanyak 230 kali. Program tersebut menjangkau 12 provinsi dan 53 kabupaten atau kota.
Nita mengatakan pemerintah juga memperkuat dukungan kepada peternak rakyat. Upaya itu dilakukan melalui integrasi pasokan telur dan daging ayam ke Program Makan Bergizi Gratis.
Pada 19 Juni lalu, Bapanas memfasilitasi koordinasi bersama sejumlah pemangku kepentingan. Pertemuan melibatkan Badan Gizi Nasional, Kementan, Satgas Pangan, koperasi, dan asosiasi peternak.
Hasilnya, telur dan daging ayam akan masuk menu MBG sebanyak dua kali setiap pekan. Pasokan akan disediakan langsung oleh koperasi dan asosiasi peternak rakyat.
Transaksi telur ditetapkan sebesar Rp26 ribu per kilogram. Sedangkan daging ayam sebesar Rp35 ribu per kilogram.
"Kami berharap pemerintah daerah melakukan langkah strategis serupa. Stabilitas pasokan dan harga harus terjaga dari hulu hingga hilir," ucapnya.
Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir meminta daerah memperkuat operasi pasar. Langkah tersebut penting untuk mengantisipasi kenaikan harga pangan.
Menurut Tomsi, beras menjadi komoditas yang sangat berpengaruh terhadap inflasi. Karena itu, Bulog dan pemerintah daerah diminta segera melakukan operasi pasar jika harga mulai bergerak naik.
"Berkaitan dengan beras, Bulog bersama pemerintah daerah harus segera melaksanakan operasi pasar," kata Tomsi.
Pemerintah berharap berbagai program stabilisasi tersebut mampu menjaga pasokan pangan. Selain itu, masyarakat diharapkan tetap memperoleh pangan dengan harga yang terjangkau.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....