Presiden Tegaskan Swasembada Pangan Berkelanjutan, NTP Capai Rekor 34 Tahun
- 25 Jun 2026 09:00 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Presiden Prabowo menegaskan komitmen menjaga swasembada pangan nasional secara berkelanjutan
- Pernyataan disampaikan pada puncak PENAS XVII di Gorontalo yang dihadiri lebih dari 100 ribu petani dan nelayan
- Prabowo menyebut Indonesia mulai mengekspor pangan dan membantu negara lain melalui surplus produksi
- Australia disebut tertarik membeli pupuk dari Indonesia karena surplus produksi nasional
- Presiden menegaskan setiap kebijakan pangan harus tetap berpihak kepada petani
RRI.CO.ID, Gorontalo: Presiden Prabowo Subianto memastikan pemerintah akan menjaga swasembada pangan nasional secara berkelanjutan. Komitmen itu disampaikan di hadapan lebih dari 100 ribu petani dan nelayan pada puncak PENAS XVII di Gorontalo, Rabu 24 Juni 2026.
Presiden mengatakan pangan merupakan persoalan mendasar setiap negara. Karena itu, pemerintah terus memperkuat produksi pangan nasional di tengah ancaman krisis global.
Menurut Prabowo, Indonesia kini mulai membantu negara lain melalui surplus produksi pangan. Bahkan sejumlah negara mulai meminta pasokan pupuk, beras, dan jagung dari Indonesia.
"Alhamdulillah sekarang kita sudah mulai ekspor. Kita membantu negara-negara lain," kata Prabowo.
Presiden mengungkapkan Perdana Menteri Australia sempat menghubunginya terkait surplus pupuk Indonesia. Pemerintah Australia disebut tertarik membeli pupuk dari Indonesia.
Meski demikian, Prabowo mengingatkan agar setiap kebijakan tetap berpihak kepada petani. Ia menegaskan petani tidak boleh dirugikan dalam proses pembangunan sektor pangan.
"Asal harganya benar. Petani jangan rugi," ucapnya.
Presiden juga menyoroti program biodiesel B50 yang akan diterapkan mulai Juli mendatang. Program itu diyakini dapat memperkuat hilirisasi sawit sekaligus mendukung kemandirian energi nasional.
Pada kesempatan yang sama, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melaporkan sejumlah capaian sektor pertanian. Salah satunya peningkatan kesejahteraan petani yang tercermin dari Nilai Tukar Petani atau NTP.
Menurut Amran, NTP mencapai angka 127. Capaian tersebut menjadi yang tertinggi dalam 34 tahun terakhir.
"Izin Bapak Presiden, NTP mencapai 127. Ini tertinggi dalam 34 tahun terakhir," kata Amran.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi sektor pertanian mencapai 5,74 persen. Angka tersebut disebut menjadi yang tertinggi dalam 25 tahun terakhir.
Amran mengatakan ekspor sektor pertanian meningkat hingga Rp166 triliun. Sementara impor turun sekitar Rp41 triliun.
Ia juga mengapresiasi kebijakan pemerintah yang menurunkan harga pupuk sekitar 20 persen. Menurutnya, penurunan harga pupuk tersebut menjadi yang pertama sejak Indonesia merdeka.
"Kami mengucapkan terima kasih mewakili petani Indonesia. Harga pupuk turun 20 persen," ucapnya.
Pemerintah juga terus mempercepat hilirisasi komoditas strategis. Program tersebut mencakup kakao, mete, dan tebu seluas 870 ribu hektare.
Menurut Amran, program hilirisasi berpotensi menciptakan tiga juta lapangan kerja hingga 2029. Pemerintah juga memberikan bantuan bibit, pengolahan lahan, dan penanaman secara gratis.
Dalam laporannya, Amran turut menyampaikan perkembangan harga tandan buah segar sawit. Harga TBS yang sempat turun disebut mulai kembali normal.
Kementerian Pertanian bersama Polri juga mengawasi perusahaan yang belum menyesuaikan harga TBS. Langkah itu dilakukan untuk melindungi kesejahteraan petani sawit.
Sementara itu, Ketua KTNA Nasional Mohammad Yadi Sofyan Noor mengapresiasi perhatian Presiden terhadap petani dan nelayan. Ia menilai berbagai kebijakan pemerintah memberikan dampak nyata bagi sektor pangan nasional.
Sebagai bentuk penghargaan, KTNA menganugerahkan Lencana Emas Adibakti Tani Nelayan Maha Utama kepada Presiden Prabowo Subianto. Penghargaan diberikan atas kontribusi dan komitmen Presiden dalam memajukan sektor pertanian dan perikanan Indonesia.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....