Presiden Prabowo Perintahkan Langkah Terukur agar Pemadaman Tidak Terulang
- 22 Jun 2026 21:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan direksi PLN imbas mati lampu di Pulau Jawa
- 2. Produksi batu bara semakin berkurang sehingga perlu modifikasi
- 3. Presiden Prabowo meminta agar persoalan mati lampu tidak terulang
RRI.CO.ID, Jakarta- Presiden Prabowo Subianto memanggil Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dan Direktur Utama PT PLN Darmawan Prasodjo serta direksi PT PLN. Pemanggilan tersebut terkait insiden pemadaman listrik di Pulau Jawa yang terjadi beberapa waktu lalu.
Menteri Bahlil menjelaskan Kepala Negara memberikan arahan yang tegas agar ada langkah yang terukur agar pemadaman tidak terulang di masa mendatang. Menteri Bahlil menegaskan kementeriannya telah membantu PLN agar listrik kembali stabil.
“Arahan Presiden Prabowo kepada kami adalah segera memastikan untuk melakukan langkah-langkah yang terukur dalam rangka percepatan agar tidak lagi terjadi hal seperti ini. Kami dari Kementerian ESDM sudah membantu PLN dalam rangka mencarikan batu bara yang medium kalori itu,” kata Menteri Bahlil kepada wartawan di Istana Kepresidenan usai bertemu Presiden Prabowo, Senin, 22 Juni 2026.
Menteri Bahlil mengatakan secara prinsip, pemerintah seharusnya tidak boleh mengintervensi transaksi bisnis pengadaan batu bara. Menurutnya pengadaan batu bara adalah transaksi bisnis antarpelaku usaha atau business to business (B2B) namun pemerintah turun tangan karena menyangkut kepentingan rakyat.
“Sebenarnya B2B sebenarnya, pemerintah nggak boleh terlalu banyak masuk ke dalam ini, B2B. Tapi karena ya udahlah kita harus memberikan pelayanan kepada masyarakat dengan baik ya,” katanya menegaskan.
Menteri Bahlil mengungkap Darmawan telah membeberkan penyebab gangguan kelistrikan yang berdampak kepada pemadaman. Penyebab tersebut yakni menyangkut gangguan teknis pada Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG).
“Tadi PLN menyampaikan ke saya dalam rapat, mulai hari ini tidak ada gangguan lagi. Itu menurut Dirut PLN karena urusan teknis terhadap pelayanan opersional ada pada PLN , pemerintah hanya regulator,” ujarnya menegaskan.
Penyebab lain adalah kebutuhan pasokan batu bara berkalori medium. Ia menjelaskan total konsumsi batu bara PLN 154 juta ton per tahun.
Sementara penugasan dari Kementerian ESDM kepada perusahaan-perusahaan untuk melayani PLN itu sudah sekitar 180 sampai 190 juta ton. Adapun PLN sendiri sudah melakukan kontrak dengan pengusaha sebanyak 134 juta ton untuk satu tahun.
“Sekarang kan baru bulan 6, itu harusnya no issue, ternyata yang PLN keluhkan itu atau PLN minta itu adalah kalori yang medium untuk blending. Nah, sudah kita pastikan bahwa sudah tidak ada masalah dan kita pemerintah sudah membantu PLN untuk bisa menjalankan,” ujarnya menerangkan.
Pihaknya sudah meminta agar PLN melakukan perbaikan dan perawatan terhadap pembangkit agar bisa memberikan kepastian pelayanan kepada masyarakat. Perawatan pembangkit agar peristiwa pemadaman tidak terjadi di masa mendatang.
Menteri Bahlil mengakui produksi batu bara berkalori tinggi (high), semakin berkurang. Kondisi yang sama juga untuk batu bara berkalori medium yang produksinya tidak lebih dari 20 persen sehingga perlu ada modifikasi.
“Dari total produksi batu bara kita 100%, itu yang medium yang 5.000 ke atas, 5.800 sampai 6.300 itu tidak lebih dari 20%. 80%-nya itu yang medium ke bawah, memang harus ada modifikasi,” kata Bahlil.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....