Din Syamsuddin Sebut Sukarno Sosok Muslim dan Nasionalis

  • 22 Jun 2026 22:43 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Profesor Doktor Din Syamsuddin menegaskan bahwa Sukarno merupakan sosok Muslim sekaligus nasionalis yang memiliki wawasan keagamaan sangat luas.
  • Universitas Muhammadiyah Jakarta menganugerahi Sukarno gelar Doktor Honoris Causa bidang Filsafat Ilmu Tauhid atas pemikirannya yang mendalam.
  • Sayap keagamaan Baitul Muslimin Indonesia menyelenggarakan peringatan haul ke 56 Bung Karno di Lenteng Agung Jakarta.

RRI.CO.ID, Jakarta - Mantan Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyebut Presiden pertama Indonesia Sukarno sebagai tokoh Muslim nasionalis. Pernyataan tersebut disampaikan dalam acara peringatan haul ke 56 Bung Karno di Lenteng Agung Jakarta.

Kegiatan keagamaan pada hari Minggu, 21 Juni 2026 ini dihadiri ratusan jemaah serta tokoh politik. Sayap keagamaan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) tersebut memprakarsai acara haul tokoh proklamator kemerdekaan.

Penceramah haul tersebut adalah Profesor Doktor Din Syamsuddin yang pernah memimpin organisasi keagamaan Muhammadiyah. Sejumlah politisi nasional turut hadir mendengarkan ceramah termasuk Ahmad Basarah yang mewakili Megawati Sukarnoputri.

"Menurut Bung Karno, cita-cita kebangsaan Indonesia selaras dengan nilai-nilai Islam. Sebagai Penggali Pancasila, Bung Karno sangat menekankan posisi sentral Sila Ketuhanan Yang Maha Esa terhadap sila-sila lain. Itulah yang menjadi salah satu alasan mengapa Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) pada 3 Agustus 1965 menganugerahi Bung Karno Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Filsafat Ilmu Tauhid," kata Din Syamsuddin.

Din Syamsuddin sendiri dikenal turut mendirikan organisasi Baitul Muslimin Indonesia bersama almarhum Taufik Kiemas. Ketua panitia Gus Falah bersama sekretaris Helmi Hidayat turut mengawal jalannya seluruh rangkaian acara.

Artikel pada tahun 1924 dalam buku Di Bawah Bendera Revolusi memuat pemikiran mendalam Sukarno. Pemikiran tersebut senada dengan gagasan yang diusung oleh pendiri Muhammadiyah Kiai Haji Ahmad Dahlan.

Bung Karno kemudian menulis karya tulis berjudul Islam Sontoloyo yang diterbitkan pada tahun 1940. Buku tersebut berisi kritik terhadap pemahaman keagamaan dogmatis yang menafsirkan kitab suci Al-Qur'an secara harfiah.

Guru Besar Politik Islam Global Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta tersebut mengulas konsep Trisakti. Gagasan tersebut meliputi berdaulat dalam bidang politik mandiri secara ekonomi serta berkepribadian dalam budaya.

Mantan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat tersebut pernah mengemban berbagai amanah besar. Ia tercatat pernah menjabat sebagai Wakil Ketua Dewan Pembina Bamusi mendampingi tokoh Megawati Sukarnoputri.

Ia berpesan agar partai politik tersebut tidak menjauh dari keberadaan umat Islam tanah air. Lembaga tersebut merupakan kelanjutan dari Jamiyatul Muslim yang didirikan pada era Partai Nasional Indonesia.

Rangkaian kegiatan haul tersebut dimulai setelah pelaksanaan ibadah salat magrib dengan melantunkan doa tahlilan. Peringatan tersebut diakhiri dengan pembacaan doa bagi Bung Karno serta ibadah salat isya berjamaah.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....