Kementan Perkuat Irigasi Hadapi Ancaman El Nino
- 18 Jun 2026 18:35 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi pengamanan sumber air dan penguatan infrastruktur irigasi untuk menjaga produksi beras nasional di tengah ancaman El Nino
- Sekaligus mendukung target peningkatan produksi sebesar satu juta ton pada 2026
- Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementan, Dhani Gartina, mengatakan pemerintah berupaya mempertahankan capaian peningkatan produksi yang telah diraih pada 2025
RRI.CO.ID, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) menyiapkan strategi pengamanan sumber air dan penguatan infrastruktur irigasi untuk menjaga produksi beras nasional di tengah ancaman El Nino. Sekaligus mendukung target peningkatan produksi sebesar satu juta ton pada 2026.
Sekretaris Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (LIP) Kementan, Dhani Gartina, mengatakan pemerintah berupaya mempertahankan capaian peningkatan produksi yang telah diraih pada 2025. Melalui intensifikasi lahan pertanian serta perluasan areal tanam.
Dalam webinar bertajuk Menjaga Produksi Pangan Saat El Nino Datang, Dhani menyebut ancaman kekeringan akibat El Nino diperkirakan melanda sejumlah wilayah pertanian. Karena itu, salah satu fokus utama pemerintah adalah memastikan ketersediaan air bagi lahan pertanian.
"Melalui Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, berbagai program pengembangan sumber daya air terus diperkuat. Termasuk melalui kolaborasi dengan Direktorat Jenderal Sumber Daya Air Kementerian Pekerjaan Umum," kata Dhani, Kamis, 18 Juni 2026.
Berbagai program yang disiapkan meliputi rehabilitasi jaringan irigasi tersier, pembangunan irigasi perpompaan dan perpipaan, embung, dam parit, hingga pengembangan sumber air alternatif. Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan indeks pertanaman, terutama pada lahan sawah tadah hujan.
"Kami berharap lahan yang sebelumnya hanya satu kali tanam dapat meningkat menjadi dua kali tanam. Bahkan dari dua kali menjadi tiga kali tanam sehingga terjadi peningkatan indeks pertanaman," ujarnya.
Pada 2026, pemerintah menargetkan pembangunan sekitar 15.000 unit irigasi perpompaan, 3.000 unit irigasi perpipaan. Serta 3.000 unit bangunan konservasi air yang difokuskan pada sentra produksi padi dan wilayah rawan kekeringan.
Selain pembangunan fisik, Kementan juga melakukan pemetaan cekungan air tanah, sumber air permukaan, sawah irigasi. Hingga kawasan rawan kekeringan guna memastikan intervensi dilakukan secara tepat sasaran.
"Strategi menghadapi kekeringan tidak hanya melalui pembangunan fisik. Tetapi juga melalui pendekatan antisipasi, adaptasi, dan mitigasi," ujarnya.
Strategi adaptasi dilakukan melalui penerapan pola tanam hemat air, penggunaan varietas padi tahan kekeringan, serta pengelolaan lahan yang lebih efisien. Sementara langkah mitigasi dilakukan melalui program asuransi pertanian, manajemen risiko produksi, serta bantuan pompa air dan infrastruktur irigasi.
Sementara itu, PT Pupuk Indonesia (Persero) memastikan kesiapan pasokan pupuk. Guna mendukung program swasembada pangan nasional.
Vice President Manajemen Stakeholder PT Pupuk Indonesia, Susatyo Jati, mengatakan alokasi pupuk subsidi sektor pertanian pada 2026 mencapai 9,5 juta ton yang terdiri atas 4,45 juta ton pupuk urea. Lalu 4,5 juta ton pupuk NPK, 500 ribu ton pupuk ZA, serta pupuk organik.
"Kami terus menjaga kapasitas dan kesehatan pabrik agar mampu memenuhi alokasi. Ini yang telah ditetapkan pemerintah," ucapnya.
Hingga 31 Mei 2026, realisasi penyaluran pupuk subsidi telah mencapai sekitar 4 juta ton atau setara 41 persen dari total alokasi pemerintah. Sementara per 8 Juni 2026, stok pupuk nasional tercatat mencapai 1,17 juta ton yang terdiri atas 836 ribu ton pupuk bersubsidi dan 338 ribu ton pupuk nonsubsidi.
"Kami telah menyiapkan pupuk di lapangan untuk membantu petani. Dalam menghadapi iklim El Nino," katanya.
Kata Kunci / Tags
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....