Diperingati setiap 18 Juni, Ini Dia Sejarah Hari Gastronomi Berkelanjutan Sedunia
- 18 Jun 2026 10:30 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Hari Gastronomi Berkelanjutan Sedunia diperingati setiap 18 Juni.
- Gastronomi berkelanjutan memperhatikan asal bahan pangan hingga proses distribusi makanan.
- Konsumsi produk lokal dan pengurangan limbah pangan mendukung sistem pangan berkelanjutan.
RRI.CO.ID, Jakarta - Tanggal 18 Juni diperingati sebagai Hari Gastronomi Berkelanjutan Sedunia atau Sustainable Gastronomy Day. Peringatan ini mengajak masyarakat lebih bijak dalam memilih, mengolah, dan mengonsumsi makanan.
Melansir Organisasi Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa (FAO), gastronomi merupakan ekspresi budaya yang lahir dari keberagaman alam dan tradisi masyarakat. Istilah tersebut juga kerap merujuk pada makanan serta masakan khas suatu daerah.
Sementara itu, keberlanjutan mengacu pada pemanfaatan sumber daya secara bertanggung jawab tanpa merusak lingkungan. Konsep tersebut memastikan kebutuhan saat ini terpenuhi tanpa mengurangi kemampuan generasi mendatang.
Gastronomi berkelanjutan tidak hanya membahas cita rasa makanan yang tersaji di meja makan. Konsep ini juga memperhatikan asal bahan pangan dan proses produksinya.
Selain itu, gastronomi berkelanjutan mempertimbangkan distribusi pangan hingga sampai ke tangan konsumen. Setiap tahapan dinilai memiliki pengaruh terhadap lingkungan, ekonomi, dan kehidupan masyarakat.
Hari Gastronomi Berkelanjutan ditetapkan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk meningkatkan kesadaran mengenai sistem pangan berkelanjutan. Peringatan tersebut juga mendorong masyarakat mendukung pola konsumsi yang lebih sehat.
Melansir FAO, konsumsi produk lokal dapat membantu memperkuat perekonomian masyarakat setempat. Langkah tersebut juga mendukung keberlangsungan usaha petani dan nelayan skala kecil.
Produk lokal umumnya membutuhkan jalur distribusi yang lebih pendek dibandingkan produk impor. Kondisi tersebut dapat membantu mengurangi emisi karbon dari sektor transportasi pangan.
Selain memberikan manfaat ekonomi, konsumsi pangan lokal turut menjaga warisan kuliner daerah. Berbagai resep tradisional dan bahan pangan khas dapat terus dilestarikan oleh generasi berikutnya.
FAO mencatat dunia akan menghadapi tantangan besar dalam memenuhi kebutuhan pangan masa depan. Jumlah penduduk global diperkirakan terus meningkat hingga lebih dari sembilan miliar jiwa.
Di sisi lain, sekitar sepertiga makanan yang diproduksi di dunia masih hilang atau terbuang. Kondisi tersebut menjadi tantangan serius bagi upaya mewujudkan ketahanan pangan global.
Karena itu, pengurangan limbah makanan menjadi bagian penting dalam gastronomi berkelanjutan. Langkah sederhana dapat dimulai dengan mengatur porsi makan sesuai kebutuhan.
Masyarakat juga dapat memanfaatkan kembali sisa makanan yang masih layak dikonsumsi. Kebiasaan tersebut membantu mengurangi pemborosan sumber daya dan produksi sampah pangan.
Hari Gastronomi Berkelanjutan Sedunia menjadi pengingat bahwa makanan memiliki makna yang lebih luas. Di balik setiap hidangan terdapat hubungan antara budaya, lingkungan, ekonomi, dan keberlanjutan kehidupan.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....