Harga Pertamax Naik, HIPMI Minta Pemerintah Jaga Daya Saing Dunia Usaha

  • 10 Jun 2026 23:30 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta pemerintah menyiapkan langkah mitigasi guna menjaga daya saing dunia usaha setelah kenaikan harga Pertamax.
  • Seketaris Jenderal (Sekjen) HIPMI Anggawira menilai kebijakan tersebut merupakan upaya menjaga kesehatan fiskal negara di tengah tantangan ekonomi.

RRI.CO.ID, Jakarta – Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) meminta pemerintah menyiapkan langkah mitigasi guna menjaga daya saing dunia usaha setelah kenaikan harga Pertamax. Seketaris Jenderal (Sekjen) HIPMI Anggawira menilai kebijakan tersebut merupakan upaya menjaga kesehatan fiskal negara di tengah tantangan ekonomi.

“Kami memahami bahwa menjaga kredibilitas fiskal merupakan hal yang penting. Stabilitas fiskal berpengaruh terhadap kondisi ekonomi makro, nilai tukar rupiah, iklim investasi, serta kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia,” kata Anggawira saat dikonfirmasi, Rabu, 10 Juni 2026.

Anggawira mengingatkan penyesuaian harga energi harus dilakukan secara terukur dengan mempertimbangkan kemampuan masyarakat dan pelaku usaha. Menurutnya, kenaikan Pertamax berpotensi meningkatkan biaya operasional sektor logistik, transportasi, konstruksi, perkebunan, dan UMKM.

“Persoalannya bukan hanya kenaikan harga BBM itu sendiri. Tetapi juga efek berantai terhadap biaya distribusi, biaya bahan baku, serta biaya operasional lainnya,” ujarnya.

Anggawira mengatakan ruang pelaku usaha meneruskan kenaikan biaya kepada konsumen masih terbatas akibat daya beli masyarakat. Karena itu, HIPMI mendorong efisiensi logistik, pembangunan infrastruktur, dan insentif bagi sektor usaha terdampak.

“Pemerintah harus dapat menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memperluas akses pembiayaan yang kompetitif. Langkah ini dilakukan agar dunia usaha memiliki ruang untuk melakukan penyesuaian,” kata Anggawira.

HIPMI mendorong percepatan penggunaan teknologi hemat energi sebagai bagian dari strategi adaptasi dunia usaha. Langkah tersebut mencakup pemanfaatan kendaraan berbasis gas dan listrik pada sektor-sektor tertentu yang memungkinkan.

“Saat ini yang dibutuhkan dunia usaha bukan semata harga energi yang murah. Melainkan kepastian usaha, efisiensi ekonomi, dan iklim investasi yang kondusif,” ucapnya.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....