Chatib Basri Ingatkan Risiko Pelemahan Nilai Tukar Rupiah
- 09 Jun 2026 23:05 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- 1. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mewanti-wanti dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap kenaikan harga
- 2. Pemerintah diminta untuk efisiensi anggaran
- 3. Dewan Ekonomi Nasional (DEN) medorong penerimaan devisa dari tenaga kerja Indonesia di luar negeri dapat ditingkatkan
RRI.CO.ID, Jakarta- Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menghadap Presiden Prabowo Subianto membahas kondisi perekonomian. Salah satu yang perlu menjadi perhatian adalah pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dollar Amerika Serikat.
Anggota DEN Chatib Basri mengatakan pelemahan nilai tukar rupiah akan berisiko terhadap kenaikan harga. Jika harga kebutuhan pokok mengalami kenaikan maka akan berdampak kepada kelompok masyarakat menengah ke bawah.
“Salah satu yang harus diperhatikan kemungkinan risiko kenaikan harga-harga yang bisa terjadi akibat dari pelemahan rupiah . Ini akan berdampak kepada kelompok menengah bawah,” kata Chatib Basri dalam keterangan pers di Istana Merdeka, Selasa, 9 Juni 2026.
Menurut mantan Menteri Keuangan tersebut, pemerintah dapat mengambil langkah antisipasi di antaranya efiensi anggaran. Chatib menilai upaya antispasi adalah untuk menumbuhkan kepercayaan kepada masyarakat.
“Salah satunya adalah langkah yang dilakukan di dalam efisiensi anggaran. Termasuk di antaranya di dalam kaitan dengan MBG (Makan Bergizi Gratis),” kata Chatib menegaskan.
Sementara itu, anggota DEN lainnya Firman Hidayat mengatakan dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo, disampaikan komitmen pemerintah untuk efisiensi. Efisiensi anggaran tersebut termasuk untuk program prioritas termasuk MBG.
Adapun antisipasi pelemahan rupiah selain efisiensi yakni memperkuat devisa diantaranya remitansi dari pekerja migran Indonesia di luar negeri. Menurutnya, potensi devisa remitansi dapat terus ditingktkan.
“Salah satu potensi yang masih bisa ditingkatkan adalah pendapatan sekunder ini adalah remitansi dari tenaga kerja kita di luar. Program Bapak Presiden untuk meningkatkan pekerja migran berkualitas seperti perawat dan segala macam itu bisa membantu meningkatkan devisa ke depan di luar,” kata Firman.
Selain itu, pemerintah harus meningkatkan kunjungan wisatawan asing ke Indonesia sehingga menambah devisa negara. Firman mengatakan, jika dibandingkan dengan negara tetangga, kunjungan wisman ke Indonesia masih rendah.
Ia mencontohkan, Malaysia mampu mendatangkan 40 juta wisman, kemudian Thailand 30 juta dan Vietnam 20 juta wisman. Adapun Indonesia, 15 juta wisman pada tahun lalu.
“Kita bisa meningkatkan wisman lebih tinggi dalam waktu ke depan . Ini tentu akan bisa membantu meningkatkan devisa kita salah satu kebijakan yang sebenarnya tidak butuh anggaran misalkan kita bisa kasih bebas visa kunjungan,” ujarnya.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....