Pemerhati Soroti Keterlambatan Indonesia Kembangkan Potensi Wisata Belanja

  • 03 Jun 2026 11:34 WIB
  •  Pusat Pemberitaan

RRI.CO.ID, Jakarta - Ketua Umum Ikatan Cendikiawan Pariwisata Indonesia (ICPI), Azril Azhari, menyoroti keterlambatan pemerintah mengembangkan potensi wisata belanja (shooping tourism). Menurutnya, Indonesia memiliki potensi wisata belanja cukup besar, seperti Jakarta, Bandung, Bali, dan daerah lainnya.

Hal itu disampaikan Azril melihat fenomena meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) di tengah melemahnya nilai tukar rupiah. Terutama ke kawasan belanja, seperti Tanah Abang dan Thamrin City di Jakarta.

"Seharusnya meningkatnya wisman, seperti dari Malaysia yang belanja ke pusat belanja Jakarta tak hanya terjadi pada saat nilai tukar Malaysia lebih baik dari Indonesia. Sehingga mereka bisa kulineran atau belanja lebih banyak atau lebih murah jika ke Indonesia," katanya dalam perbincangan dengan RRI Pro 3, Rabu , 3 Juni 2026.

"Makanya perlu pengembangan yang namanya retailtainment. Yakni penggabungan konsep belanja (retail) dan hiburan (entertainment) yang memberikan pengalaman unik dan imersif kepada wisatawan," lanjutnya.

"Aktivitas ini mengubah kegiatan belanja dari sekadar transaksi rutin menjadi aktivitas pariwisata yang menyenangkan, penuh estetika, dan interaktif," ujarnya. Hiburan tambahan, katanya, akan membuat wisatawan betah berlama-lama di suatu kawasan.

"Ini akan berdampak langsung pada peningkatan pengeluaran atau spending mereka dan akan memiliki efek domino bagi pelaku usaha," katanya. Azril mengatakan, wisatawan asing datang ke Jakarta atau daerah lainnya bukan hanya untuk belanja.

Mereka bahkan dapat belanja lebih banyak dengan harga murah ketika rupiah sedang turun terhadap dollar AS. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan adanya kenaikan kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) pada April yang mencapai 1,25 juta kunjungan.

Jumlah ini naik sebesar 14,75% dibandingkan Maret 2026 (secara bulanan). Selain itu naik 7,22% dibandingkan bulan yang sama tahun lalu (tahunan).

Kenaikan kunjungan wisman tersebut terjadi di tengah melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dollas AS. Di saat yang sama, jumlah perjalanan Warga Negara Indonesia (WNI) yang berpelesir di dalam negeri, justru menurun.

Dimana secara bulanan mencapai 22,79%, yaitu menjadi 97,55 juta perjalanan, dan turun 24,24% secara tahunan. Begitu juga dengan jumlah perjalanan wisatawan nasional (wisnas) atau WNI yang berpelesir ke luar negeri juga turun 3,49%.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....