Tangkal Hoaks, Kemkomdigi Dorong Literasi Digital bagi Masyarakat

  • 31 Mei 2026 07:20 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Kemkomdigi menilai literasi digital penting untuk menangkal hoaks, misinformasi, disinformasi, dan malinformasi.
  • Kepala BPSDM Kemkomdigi Bonifasius Wahyu Pudjianto meminta masyarakat lebih cermat menelaah informasi digital.
  • Masyarakat didorong meningkatkan kemampuan membedakan informasi yang benar dan tidak benar.

RRI.CO.ID, Jakarta - Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) Bonifasius Wahyu Pudjianto mengatakan literasi digital penting untuk membantu masyarakat menghadapi berbagai informasi yang beredar di ruang digital. Menurutnya, pemahaman tersebut diperlukan agar masyarakat tidak mudah terpapar informasi yang tidak sesuai dengan fakta.

"Terkait dengan literasi digital, ini penting sekali untuk memberikan kekuatan kepada masyarakat, agar mereka tidak terpapar oleh berbagai informasi yang sebenarnya tidak sesuai. Bisa disebut sebagai hoaks, misinformasi, disinformasi, ataupun juga malinformasi," ujar Bonifasius dalam acara Talkshow literasi digital untuk Lansia dan pergelaran budaya, berupa wayang kulit dengan tema ‘Sapa Lansia: Tetap Terhubung, Bahagia dan Anti Gaptek’ di Auditorium Abdulrahman Saleh RRI, Jakarta, Sabtu, 30 Mei 2026.

Bonifasius menjelaskan masyarakat saat ini dihadapkan pada berbagai bentuk informasi yang dikemas secara menarik. Karena itu, publik perlu lebih cermat dalam menelaah dan memahami isi informasi yang diterima.

Ia mengingatkan bahwa makna suatu informasi dapat berubah setelah melalui proses pengolahan tertentu. Oleh sebab itu, masyarakat perlu meningkatkan kemampuan untuk membedakan informasi yang benar dan yang tidak benar.

"Kita harus cermat meneliti, mencernanya, mungkin makna sebenarnya bukan demikian, tapi telah diolah. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama, saling mengasah, dan memberikan wawasan mengenai bagaimana membedakan informasi yang benar dan yang tidak," kata Bonifasius.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Dewan Pengawas Lembaga Penyiaran Publik Radio Republik Indonesia (LPP RRI) Anwar Mujahid Adhy Trisnanto mengatakan RRI terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Salah satu langkah yang dilakukan adalah mengembangkan layanan berbasis multiplatform untuk memperluas jangkauan distribusi informasi.

Anwar menjelaskan RRI tetap mempertahankan layanan radio terestrial sebagai media penyiaran utama. Namun, lembaga tersebut juga memanfaatkan berbagai platform digital untuk menjangkau masyarakat yang telah beralih menggunakan media digital.

"Yang jelas begini, setelah disrupsi media, maka RRI mengembangkan apa yang sekarang disebut sebagai multiplatform. Mempertahankan radio terestrialnya, tapi juga pada saat yang sama, menggunakan multiplatform untuk memperluas distribusi pesan menjangkau segmen-segmen masyarakat yang sudah beralih kepada media digital," ujar Anwar.

Menurut Anwar, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya RRI menyesuaikan diri dengan perkembangan era digital. Upaya itu dilakukan agar RRI tetap dapat menjalankan fungsi sebagai media publik sesuai amanat undang-undang.

"Dengan demikian maka itu menunjukkan bahwa memang RRI tidak mau ketinggalan untuk memanfaatkan era digitalisasi ini habis-habisan. Apa yang diamanahkan oleh undang-undang kepada RRI untuk menjadi media publik yang memberikan informasi, hiburan, edukasi, juga perekat sosial," kata Anwar.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....