Ahli Ingatkan Masyarakat Cermat Membaca Label Makanan Kaleng
- 28 Mei 2026 06:20 WIB
- Pusat Pemberitaan
Poin Utama
- Makanan kaleng atau makanan kemasan dibuat untuk menjaga pangan tetap awet.
- Proses pengalengan yang benar mencegah cemaran mikroba pembusuk maupun penyebab penyakit pada makanan masyarakat sehari-hari.
- Makanan kalengan tidak otomatis berarti tidak sehat, yang tidak menyehatkan itu kandungan gula, garam, lemaknya, atau apakah ada bahan tambahannya,”
RRI.CO.ID, Jakarta – Ahli Teknologi Pangan Applied Science Foundation, Daisy Irawan, mengingatkan masyarakat lebih cermat membaca label makanan kaleng. Menurutnya, kandungan gula, garam, lemak, dan natrium perlu diperhatikan sebelum masyarakat rutin mengonsumsi produk makanan kemasan.
Daisy menjelaskan makanan kaleng dibuat menjaga pangan tetap awet sekaligus mencegah cemaran mikroba penyebab kerusakan dan penyakit berbahaya. Ia mengatakan proses pengalengan tepat justru membantu menjaga keamanan pangan tanpa tambahan bahan pengawet berlebihan bagi masyarakat.
“Masyarakat perlu memahami informasi gizi pada kemasan sebelum mengonsumsi makanan kaleng secara rutin setiap harinya. Makanan kaleng tidak otomatis berbahaya selama dikonsumsi bijak dan memperhatikan kandungan gizinya secara menyeluruh,” kata Daisy kepada PRO3 RRI, Rabu, 27 Mei 2026.
Ia menegaskan makanan kaleng berbahan alami sebenarnya tetap aman dikonsumsi apabila diproses sesuai standar keamanan pangan berlaku. Daisy menilai pengalengan membantu menjaga kualitas bahan segar sehingga kebutuhan penggunaan formalin atau pengawet tambahan dapat dikurangi.
Menurut Daisy, produk sarden kalengan juga memiliki manfaat gizi karena duri ikan menjadi lunak setelah pengolahan berlangsung. Ia menyebut kandungan kalsium pada tulang dan duri ikan bermanfaat bagi lansia yang jarang mengonsumsi susu harian.
Meski demikian, Daisy mengingatkan masyarakat tetap membatasi konsumsi makanan kaleng agar asupan natrium harian tidak berlebihan bagi kesehatan. Ia mengatakan kadar sodium tinggi berisiko meningkatkan hipertensi terutama apabila dikombinasikan bersama berbagai makanan instan lainnya sehari-hari.
“Makanan segar tetap menjadi pilihan terbaik bagi masyarakat dalam memenuhi kebutuhan gizi seimbang setiap harinya. Namun, makanan kaleng dapat menjadi solusi praktis selama dikonsumsi sewajarnya dan tidak berlebihan,” katanya.
Sebelumnya, perdebatan mengenai makanan kaleng ramai diperbincangkan warganet setelah dikaitkan dengan kategori ultra-processed food atau UPF. Sebagian masyarakat menganggap seluruh makanan kaleng tidak lagi termasuk real food meskipun pengolahannya diatur ketat pemerintah.
Faktanya, produk makanan kaleng tetap melewati pengawasan keamanan pangan sehingga risiko kesehatannya relatif dapat dikendalikan dengan baik. Namun, para ahli mengingatkan masyarakat tetap memperhatikan kondisi kemasan serta kandungan gizinya sebelum mengonsumsi produk tersebut.
Rekomendasi Berita
Memuat berita terbaru.....