Kemenko PMK: Kesiapsiagaan Bencana Masih Jadi Tantangan Besar di Indonesia

  • 27 Mei 2026 11:46 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Lilik Kurniawan menilai kesiapsiagaan bencana masih menjadi tantangan besar karena masyarakat mudah melupakan tragedi kebencanaan.
  • Kemenko PMK mendorong pembangunan memori kolektif kebencanaan melalui pemahaman siklus adaptif alam, pengetahuan lokal, dan sains modern.
  • Kemenko PMK bersama Institut Seni Indonesia Yogyakarta melakukan penanaman pohon untuk memperkuat memori kolektif peringatan 20 tahun Gempa Yogyakarta 2006.

RRI.CO.ID, Jakarta - Deputi Bidang Koordinasi Penanggulangan Bencana dan Konflik Sosial Kemenko PMK, Lilik Kurniawan menyoroti pentingnya kesiapsiagaan masyarakat menghadapi bencana. Ia menilai kesiapsiagaan bencana masih menjadi tantangan besar nasional saat ini.

"Tantangan besar bagi kita sebenarnya, 20 tahun bukanlah waktu yang singkat. Namun, kita melihat masyarakat biasanya hanya membicarakan bencana selama satu hingga tiga tahun, setelah itu perlahan melupakannya," katanya dalam wawancara bersama PRO3 RRI, Rabu, 27 Mei 2026.

Ia menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan besar membangun memori kolektif kebencanaan masyarakat Indonesia secara berkelanjutan saat ini. Padahal, gempa Yogyakarta dan Jawa Tengah tahun 2006 menyebabkan lebih dari 5.700 korban meninggal dunia secara tragis sebelumnya.

Ia mengatakan Kemenko PMK terus berupaya membangun kesadaran masyarakat agar tidak lengah menghadapi ancaman bencana mendatang nantinya. Menurutnya, kesiapsiagaan menjadi solusi penting menghadapi ancaman bencana yang selalu berada dekat kehidupan masyarakat Indonesia sehari-hari bersama.

"Kita harus mewariskan bahwa perjalanan bencana itu ada di sekitar kita. Kita tidak boleh lengah," ucapnya.

Ia menjelaskan masyarakat perlu memahami siklus adaptif alam dalam membangun kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana nasional bersama-sama. Siklus tersebut mencakup kemunculan ancaman, perubahan menjadi bencana, hingga kemampuan masyarakat merespons ancaman secara tepat bersama.

Masyarakat, kata dia, dapat memanfaatkan modal sosial serta pengetahuan lokal warisan nenek moyang membaca tanda-tanda alam sekitar kehidupan. Pengetahuan tersebut meliputi perilaku hewan, perubahan warna langit, suhu tanah, arah angin, hingga kondisi tumbuhan sekitar masyarakat setempat.

Selain pengetahuan tradisional, ia menilai sains modern juga memiliki peran penting mendukung mitigasi kebencanaan nasional Indonesia bersama.

Ia menyebut pengamatan melalui sensor dan analisis dilakukan BMKG membantu sistem peringatan dini berjalan optimal nasional.

"Sains modern itu yang selama ini dilakukan oleh PMKG, mengamati, membuat sensor, kemudian membuat analisis," ujarnya. Ia menilai perpaduan pengetahuan tradisional dan sains modern penting memperkuat kesiapsiagaan masyarakat menghadapi ancaman bencana nasional bersama.

Ia menegaskan tantangan terbesar bukan sekadar penyampaian informasi kebencanaan, melainkan respons masyarakat terhadap peringatan resmi tersebut bersama. Menurutnya, kesiapsiagaan tidak berjalan efektif apabila masyarakat bersikap apatis terhadap informasi ancaman bencana yang diterima pemerintah.

Sementara itu, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) bersama Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta melakukan penanaman pohon. Kegiatan ini dilakukan dalam rangkaian Peringatan 20 Tahun Gempa Yogyakarta di Kampus ISI Yogyakarta, Jumat, 8 Mei 2026.

Penanaman bibit pohon srikaya dan almon dilakukan secara simbolis sebagai bentuk penghormatan terhadap Kampus ISI Yogyakarta. Kampus tersebut diketahui yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak saat Gempa Yogyakarta 27 Mei 2006.

Asisten Deputi Pengurangan Risiko Bencana Kemenko PMK Andre Notohamijoyo menyampaikan bahwa kegiatan penanaman pohon diharapkan dapat menjaga memori kolektif. Terutama pada sivitas akademika dan masyarakat terhadap risiko bencana di wilayah Yogyakarta.

"Penanaman pohon secara simbolis merupakan bentuk penghormatan terhadap Kampus ISI yang menjadi salah satu wilayah paling terdampak. Diharapkan penanaman ini dapat menjaga memori kolektif sivitas akademika dan masyarakat terhadap risiko bencana yang ada," ujar Andre.

google-preference

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....