Mentan: Desa Tak Bergantung Dolar AS

  • 20 Mei 2026 22:25 WIB
  •  Pusat Pemberitaan
Poin Utama
  • Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menilai penguatan dolar tidak otomatis mengancam desa
  • Pemerintah menyebut desa memiliki daya tahan ekonomi kuat karena ditopang sektor pertanian
  • Pertanian dinilai menjadi bantalan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global
  • Pemerintah memastikan harga bahan bakar minyak subsidi tidak naik dan pupuk turun
  • Mayoritas kebutuhan pangan nasional berasal dari produksi dalam negeri

RRI.CO.ID, Jakarta - Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan penguatan dolar tidak otomatis mengancam masyarakat desa. Menurutnya, desa memiliki daya tahan ekonomi kuat karena ditopang sektor pertanian.

Pernyataan itu disampaikan Amran dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa 19 Mei 2026. Pemerintah menilai pertanian kini menjadi bantalan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.

“Dampak ada, beli BBM, tetapi ingat BBM subsidi kan tidak naik. Pupuk juga turun,” ucapnya.

“Dampak positif di desa justru jauh lebih tinggi. Karena desa ditopang sektor pertanian,” katanya.

Amran mengatakan mayoritas kebutuhan pangan nasional berasal dari produksi dalam negeri. Menurutnya, kondisi tersebut membuat Indonesia memiliki ketahanan pangan domestik yang kuat.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, nilai ekspor sektor pertanian Januari hingga Desember 2025 mencapai Rp756,59 triliun. Nilai tersebut meningkat sekitar Rp166 triliun dibanding sebelumnya.

“Ekspor kita naik Rp166 triliun. Sementara impornya turun Rp41 triliun,” ucapnya.

“Ini data BPS dan bisa dicek langsung. Pertanian sekarang menjadi bantalan ekonomi nasional,” katanya.

Menurut Amran, kebutuhan dasar masyarakat sebagian besar tersedia di desa. Beras, telur, ayam, cabai, hingga bawang diproduksi langsung petani dan peternak lokal.

Pemerintah juga mencatat delapan komoditas strategis telah mencapai kondisi swasembada. Komoditas tersebut meliputi beras, jagung, bawang merah, cabai, telur ayam ras, daging ayam ras, gula konsumsi, dan sawit.

“Desa adalah pertanian. Dampak positifnya jauh lebih tinggi,” ucapnya.

Pemerintah juga mempercepat hilirisasi berbagai komoditas pangan dan perkebunan nasional. Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan nilai tambah ekspor dan memperkuat ekonomi nasional.

Menurut Amran, hilirisasi dilakukan pada komoditas kelapa, kakao, kopi, lada, hingga sawit. Pemerintah menilai penguatan dolar dapat menjadi peluang memperbesar ekspor produk hilir Indonesia.

Rekomendasi Berita

Berita Terbaru Lainnya

Memuat berita terbaru.....